Selasa, 17 Desember 2019
Kamis, 05 Desember 2019
Sabtu, 28 September 2019
STSD 16 telah terbit. Yang berkenan segera daftar
Tiba-tiba
terlintas dalam ingatan Ki Rangga apa yang tertulis pada lembar pertama kitab Ki
Waskita.
“Bahwa saat bintang yang cahayanya seperti seribu obor yang menyala
dilangit, seorang pertapa yang telah menjauhkan diri dari libatan pengaruh
duniawi, dan yang telah mendekatkan diri pada sangkan paraning dumadi,
yang diberi pertanda oleh Yang Maha Sakti dengan gelar Empu Pahari, telah
menerima wisik di dalam mimpi menjelang fajar menyingsing, bahwa
tangannya akan menjadi lantaran turunnya ilmu yang akan diwarisi oleh para
sakti yang mendapat anugerah sejati, untuk diamalkan sesuai dengan tetesan hati
yang bening dalam kasih. Dan mereka yang mewarisi di atas alas kebenaran akan
menjadi pelita yang dapat menerangi kegelapan di sekitarnya. Akan terdengar
sorak sorai kegembiraan di hati sesama yang dilindunginya dan akan terdengar
gemeretak gigi dan tangis kehancuran bagi mereka yang terkena azabnya karena
langkah yang sesat. Terpujilah Yang Maha Benar"
Monggo yang berkenan untuk teman malam mingguan langsung daftar
matur suwun
Monggo yang berkenan untuk teman malam mingguan langsung daftar
matur suwun
Senin, 12 Agustus 2019
woro2 lagi
Assalamu 'alaikum
@ cantrik mentrik ingkang dahat kinurmatan
Jika masih ada Cantrik Mentrik yang masih berkenan mendapatkan STSD 15, silahkan email ke s_sudjatmiko@yahoo.com.au
tidak ada persyaratan yang mengikat. Jika berkenan donasi, sangat disyukuri. Jika berkenan mendoakan untuk kebaikan dan kesehatan juga sangat disyukuri. Yang penting terjalin tali silahturahmi.
Terus terang mbah man kesulitan untuk mencari alamat email masing2 CanMen, karena alamat email bercampur dengan yang lain2. maklum sudah tua dan GapTek.
semoga dimaklumi dan berkenan
matur suwun sebelumnya
Wassalamu 'alaikum
Padepokan Sekar Keluwih Sidoarjo
mbah man
@ cantrik mentrik ingkang dahat kinurmatan
Jika masih ada Cantrik Mentrik yang masih berkenan mendapatkan STSD 15, silahkan email ke s_sudjatmiko@yahoo.com.au
tidak ada persyaratan yang mengikat. Jika berkenan donasi, sangat disyukuri. Jika berkenan mendoakan untuk kebaikan dan kesehatan juga sangat disyukuri. Yang penting terjalin tali silahturahmi.
Terus terang mbah man kesulitan untuk mencari alamat email masing2 CanMen, karena alamat email bercampur dengan yang lain2. maklum sudah tua dan GapTek.
semoga dimaklumi dan berkenan
matur suwun sebelumnya
Wassalamu 'alaikum
Padepokan Sekar Keluwih Sidoarjo
mbah man
Senin, 29 Juli 2019
Woro2
Jika tidak ada aral melntang dan gambar sudah selesai, besuk STSD 15 akan terbit
mohon yang berkenan langsung ke TKP
email : s_sudjatmiko@yahoo.com.au
matur suwun
Minggu, 23 Juni 2019
woro-woro
@ para CanMen yang berkenan STSD 14
mohon langsung ke TKP email: s_sudjatmiko@yahoo.com.au
jangan di Blog ini karena mbah man jarang berkunjung ke taman ini
mohon perhatian dan terima kasih
salam,
mbah man
mohon langsung ke TKP email: s_sudjatmiko@yahoo.com.au
jangan di Blog ini karena mbah man jarang berkunjung ke taman ini
mohon perhatian dan terima kasih
salam,
mbah man
Kamis, 02 Mei 2019
STSD 14


“Ternyata sifat Ki Swandaru telah menurun kepada anaknya,” hampir setiap dada telah terguncang oleh pernyataan sikap Bayu Swandana itu.
“Kasihan Nyi Pandan Wangi,” seorang pengawal yang rambutnya mulai beruban
melanjutkan angan-angannya, “Semoga Ki
Argapati di Menoreh lambat laun akan mampu membentuk anak ini menjadi anak yang
andap asor dan berbudi luhur serta menjadi harapan bagi masa depan kedua daerah
yang besar itu.”
Sedangkan perempuan parobaya yang
ternyata adalah Pandan Wangi, ibu Bayu Swandana itu justru telah terpekur di
atas kudanya yang berderap perlahan. Berbagai tanggapan pun telah tumbuh di
dalam hatinya.
“Ayah Demang memang terlalu
memanjakannya,” berkata Pandan Wangi dalam hati sambil terus mengendalikan
kudanya agar tidak berderap terlalu kencang, “Apapun tingkah lakunya selalu
dibenarkan dan didukung. Mungkin kenangan atas kakang Swandaru telah membuat
ayah Demang berbuat seperti itu.”
Demikianlah kelima kuda ekor itu berderap
terus menyusuri pinggir hutan yang masih cukup lebat. Sesekali mereka melihat
beberapa ekor kera bergelantungan di pepohonan di pinggir hutan. Terdengar
suara mereka yang ribut dan saling bersahut-sahutan.
“Paman,” tiba-tiba Bayu Swandana
menyeluthuk, “Mengapa kera-kera itu mengikuti kita?”
Orang yang dipanggil paman itu tersenyum
sebelum menjawab. Jawabnya kemudian, “Tentu saja mereka bercuriga terhadap
kita. Mereka selalu bercuriga terhadap sesuatu yang mereka anggap asing dan
berbahaya bagi kelompok mereka. Sebenarnyalah mereka hanya berusaha mengawal
kita sampai keluar hutan untuk meyakinkan bahwa kita tidak akan mengganggu mereka.”
Tampak kepala Bayu Swandana
terangguk-angguk. Kemudian sambil sedikit berteriak dia bertanya kepada Pandan
Wangi yang berkuda di depan, “Biyung, masih lamakah perjalanan ini?”
Pandan Wangi yang kembali berkuda di
depan berpaling ke belakang sekilas sambil menjawab, “Sedikit lagi, ngger. Bersabarlah.
Nanti setelah sampai di kediaman kakek Argapati, engkau dapat beristirahat
sepuas-puasnya.”
“Aku tidak akan tidur,biyung,” sela Bayu
Swandana cepat, “Aku akan mengajak kakek Argapati untuk berkuda berkeliling
perdikan Menoreh.”
Pandan Wangi tersenyum mendengar ucapan
anak laki-laki satu-satunya yang terdengar penuh semangat itu. Beberapa
pengawal yang ikut dalam rombongan itu pun tampak tersenyum.
“Malam-malam engkau akan berkuda, ngger?”
tiba-tiba salah seorang pengawal yang berkuda di belakang bertanya.
Bayu Swandana berusaha berpaling ke
belakang untuk melihat pengawal yang bertanya itu. Namun pandangan matanya
tertutup tubuh pengawal yang berkuda dengannya. Maka jawabnya sambil sedikit
berteriak, “Apa salahnya berkuda malam-malam? Udara malam tidak sepanas siang
hari sehingga kita tidak akan cepat lelah dan dapat berkuda sepuas-puasnya.”
“Namun kuda juga perlu beristirahat,”
sahut pengawal yang berkuda bersamanya, “Sebagaimana manusia, binatang juga
perlu beristirahat di malam hari.”
“Tapi kelelawar itu justru berkeliaran di
malam hari,” sergah Bayu Swandana cepat, “Pohon jambu di belakang dapur itu
buahnya yang sudah masak habis dimakan kelelawar. Padahal aku baru mau
memetiknya keesokan harinya.”
Orang-orang yang mendengar gerutu Bayu
Swandana itu tak urung telah tersenyum geli.
“Ngger, Tuhan Yang Maha Agung menciptakan
makhlukNya berbeda-beda,” jawab pengawal yang berkuda dengannya sambil
tersenyum sareh, “Ada makhluk yang memang menggunakan siang hari untuk bekerja
dan malam hari untuk berisitrahat, contohnya kita sebagai manusia. Namun ada
juga makhluk yang menggunakan siang hari untuk beristirahat dan malam hari
untuk mencari makan, salah satunya adalah kelelawar itu.”
“Tapi manusia kadang-kadang ada yang
hidupnya seperti kelelawar,” sahut Bayu Swandana cepat.
“Apa maksudmu, ngger?” sahut pengawal yang berkuda bersamanya dengan
kerut merut di dahi.
Bayu Swandana tertawa pendek. Jawabnya
kemudian sambil tangannya kanannya menunjuk ke belakang, ke arah pengawal yang
berkuda bersamanya, “Paman sendiri yang aku lihat kemarin menjadi kelelawar.”
“He?!” hampir bersamaan para pengawal
yang ikut dalam rombongan itu terlonjak kaget. Tak terkecuali Pandan Wangi yang
berkuda di depan pun ikut berpaling.
“Kapan aku menjadi kelelawar, ngger?”
bertanya pengawal yang berkuda bersamanya itu dengan serta merta dan nada penuh
keheranan.
Kembali Bayu Swandana tertawa pendek.
Jawabnya kemudian, “Kemarin lusa aku lihat paman tidur seharian di lincak dekat
longkangan. Baru menjelang Matahari terbenam paman bangun dan pergi ke pakiwan
belakang dapur.”
“Ah!” serentak para pengawal itu tertawa.
Pandan Wangi pun tersenyum menanggapi ucapan anak semata wayangnya itu.
“Itu karena paman semalaman habis meronda
ke seluruh wilayah kademangan Sangkal Putung,” berkata pengawal yang berkuda
bersamanya itu kemudian, “Paman sangat mengantuk dan memang hampir seharian
tidur di lincak dekat longkangan itu.”
“Nah, bukankah benar yang aku katakan,”
sergah Bayu Swandana cepat, “Saat itu paman sedang menjadi kelelawar. Bekerja
di malam hari dan tidur di siang hari.”
“Memang benar, ngger,” seorang pengawal
yang berkuda di belakangnya menyahut sambil memacu kudanya menjajari kuda Bayu
Swandana, “Kelak engkau akan melihat banyak manusia yang hidupnya seperti
kelelawar.”
“Ah, sudahlah,” tiba-tiba tedengar Pandan
Wangi yang berkuda di depan memotong. Tanyanya kemudian mengalihkan
pembicaraan, “Apakah kita akan melewati Kota Raja?”
“Ya, ya, biyung. Kita lewat Kota Raja!”
sahut Bayu Swandana kegirangan, “Aku belum pernah melihat Kota Raja. Alangkah
indahnya! Kita dapat bermalam di Kota Raja, biyung.”
“Sebaiknya kita menghindari Kota Raja,
nyi,” pengawal yang berkuda bersama Bayu Swandana itu lah yang menjawab, “Jika
nyi Pandan Wangi sependapat, kita sedikit ke selatan melewati kademangan Sewon
yang besar. Namun aku rasa perjalanan kita tidak akan mengalami banyak
hambatan. Berbeda dengan jika kita melewati Kota Raja.”
Pandan Wangi mengerutkan keningnya sambil
berpaling sekilas ke belakang. Tanyanya kemudian, “Ada apa dengan Kota Raja
jika kita melewatinya?”
“Maaf nyi,” jawab pengawal itu, “Bukan Kota
Raja itu sendiri yang menjadi masalah. Namun rombongan ini akan sangat menarik
perhatian para prajurit yang menjaga pintu gerbang Kota Raja.”
“Maksudmu, pakaian yang aku kenakan ini
akan menarik perhatian mereka?”
“Demikianlah, nyi. Itu menurut perhitunganku.”
“Ada apa dengan biyung?” tiba-tiba Bayu
Swandana menyeluthuk dengan nada bersungut-sungut, “Biyung terlihat sangat
cantik dan gagah mengenakan pakaian itu. Apalagi biyung juga membawa sepasang
pedang di lambung. Para prajurit yang
menjaga pintu gerbang pasti akan ketakutan.”
Hampir semua orang dalam rombongan itu
telah tersenyum mendengar ucapan Bayu Swandana.
“Tidak,ngger,” jawab Pandan Wangi
kemudian sambil mengurangi laju kudanya dan menjajari kuda yang ditunggangi
pengawal bersama anaknya, “Para prajurit Mataram tidak mengenal rasa takut.
Sebaiknya kita memang menghindari Kota Raja. Bukan berarti kita takut dengan
para prajurit Mataram. Mereka sangat baik. Namun lebih baik kita menghindari Kota
Raja. Kota Raja sangat ramai dan kemungkinannya perjalanan kita akan sangat
lambat. Berbeda jika kita melewati kademangan Sewon. Kita dapat berpacu di
bulak-bulak panjang sehingga setelah Matahari terbenam kita sudah akan
menyeberangi kali Praga.”
“Horee..!!! Kita akan berpacu lagi!” seru Bayu Swandana
gembira, “Aku sudah bosan naik kuda pelan-pelan. Seperti menaiki seekor
kerbau.”
“Ah”, beberapa pengawal tertawa. Salah
satu dari pengawal yang berkuda di belakang itu pun kemudian menyahut, “Tapi
naik kerbau sangat menyenangkan. Kita dapat duduk dengan tenang sambil
terkantuk-kantuk.”
Kembali terdengar orang-orang dalam
rombongan itu tertawa. Bayu Swandana pun tertawa karena dia sering melakukannya
jika musim menggarap sawah tiba. Kakeknya Ki Demang Sangkal Putung mempunyai
kerbau yang cukup banyak sehingga dia sering ikut ke sawah sambil menaiki
kerbau.
Senin, 22 April 2019
STSD 13 telah terbit
Woro2
Yang merasa belum mendapat kiriman STSD 13 dimohon email ke:
s_sudjatmiko@yahoo.com.au
Matur suwun atas kesabarannya selama ini
salam hormat,
mbah man
Yang merasa belum mendapat kiriman STSD 13 dimohon email ke:
s_sudjatmiko@yahoo.com.au
Matur suwun atas kesabarannya selama ini
salam hormat,
mbah man
Selasa, 19 Maret 2019
STSD 13_07
Segera saja orang-orang yang berada di atas
dahan yang paling tinggi kembali meleparkan pandangan mata mereka jauh ke
depan. Sejenak mereka masih menunggu. Lamat-lamat raut wajah ketiga penunggang
kuda itu memang semakin lama semakin jelas. Setelah garis-garis wajah serta
bentuk tubuh ketiga penunggang kuda itu dapat diamati secara jelas, bagaikan
telah berjanji sebelumnya dan lupa akan pesan cantrik Bonggol dan orang
berkumis tipis itu, mereka pun serentak berteriak dengan gegap gempita.
“Raden Wirasena telah dataang..!!”
“Hidup Raden Wirasena..!!!”
“Hidup Trah Sekar Seda Lepen..!!!”
“Balaskan dendam saudara-saudara kami…!!!”
“Hancurkan perdikan Matesih…!!”
“Rebut kembali padepokan Sapta Dhahana…!!!”
“Bumi hanguskan perdikan Matesih dan
boyong putri Matesih Nimas Ratri..!!!” tiba-tiba saja seorang cantrik yang
tinggi kekurus-kurusan dan duduk di cabang yang rendah telah berteriak cukup
lantang di sela-sela gegap gempita teriakan kawan-kawannya.
“He..?!!” seru kawan yang duduk di sebelahnya sambil
menyikut lambung cantrik kurus itu, “Apa maksudmu?”
Cantrik kurus itu berpaling sambil tersenyum
penuh arti. Jawabnya kemudian, “Aku lebih senang menyerbu perdikan Matesih dari
pada merebut kembali padepokan kita.”
Kawannya ternyata masih belum dapat
menangkap maksud cantrik kurus itu. Maka sekali lagi dia bertanya, “Mengapa? Bukankah
merebut padepokan kita berarti kita dapat kembali ke rumah kita yang selama ini
kita tinggali? Padepokan Sapta Dhahana bagiku menyimpan seribu kenangan yang
akan sangat sulit bagiku untuk dilupakan.”
“Ah, apa peduliku,” sahut cantrik kurus
itu, “Aku lebih senang menjarah perdikan Matesih terutama kediaman Ki Gede Matesih.
Tentu banyak barang-barang berharga yang tersimpan di sana. Dan yang paling
berharga tentu puteri Matesih yang cantik jelita itu.”
“He..?!!” kembali kawannya terkejut bukan
alang kepalang mendengar apa yang tersimpan dalam benak Cantrik kurus itu. Tanpa
sadar dia berpaling dan memandang tajam ke arahnya sambil berkata dengan
suara bergetar, “Agaknya otakmu sudah engsle,
jika Raden Surengpati mendengar omonganmu yang ngelantur itu, aku jamin engkau
tidak akan sempat melihat Matahari terbenam hari ini.”
Namun Cantrik kurus itu justru telah
tertawa kecil sambil berbisik ke arah telinga kawannya, “Adik Trah Sekar Seda
Lepen itu nyawanya sudah berada di ujung rambut. Dia tidak akan mampu berbuat
apa-apa seandainya malam ini kita menyerbu Matesih dan aku akan memboyong
puteri yang cantik itu. Dia pasti belum mampu ikut dalam pasukan yang akan
dipimpin langsung oleh Raden Wirasena. Dia akan menjadi penunggu hutan bersama
tabib tua itu.”
“Gila..!!” umpat kawannya berkali-kali. Namun
Cantrik kurus itu justru telah melanjutkan tawanya.
“Engkau akan dibunuh Raden Wirasena!”
kembali kawannya menggeram, “Raden Wirasena sangat sayang kepada adik
satu-satunya itu. Jika engkau mencoba mengganggunya, sama saja engkau membunuh
dirimu sendiri.”
Namun Cantrik kurus itu tampak kembali
tersenyum aneh. Jawabnya kemudian, “Raden Wirasena sama sekali tidak tertarik
dengan urusan tetek bengek yang
melibatkan perempuan. Jika adiknya kemudian mempunyai hubungan khusus dengan
puteri Matesih itu, dia juga tidak akan perduli. Baginya berjuangan meraih
tahta adalah segala-galanya.”
Kawannya tampak termenung beberapa saat. Namun
pada akhirnya dia justru telah ikut tertawa sambil berkata, “Ah, sudahlah. Persetan
dengan semua itu. Bagiku perjuangan Trah Sekar Seda Lepen ini harus berhasil.”
Demikianlah, masih banyak lagi teriakan bersahut-sahutan
dari atas pohon itu yang segera disambut dengan gegap gempita oleh kawan-kawan
mereka yang berada di bawah pohon.
Sejenak dahi cantrik Bonggol berkerut. Tanpa
sadar dia berpaling ke arah orang berkumis tipis itu yang berdiri hanya
beberapa langkah saja di sampingnya.
Namun ternyata orang berkumis tipis itu hanya
tersenyum kecut sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Tanpa mengucap sepatah
kata pun dia kemudian melangkah maju keluar dari gerumbul perdu yang cukup
lebat yang tumbuh di hadapannya.
Cantrik Bonggol pun akhirnya mengikuti
langkah orang berkumis tipis itu untuk maju beberapa langkah lagi menyambut
kedatangan pemimpin mereka yang sangat ditunggu-tunggu kehadirannya.
Dalam pada itu beberapa orang yang berada
di atas pohon ternyata telah meluncur turun dengan cepat. Agaknya mereka juga
ingin menyambut kedatangan pemimpin mereka yang sangat di hormati dan di gadang-gadang akan dapat mengeluarkan
mereka dari kehidupan yang penuh papa
cintraka menuju ke bebrayan yang gemah ripah loh jinawi. Tata titi tentrem
kerta raharja, subur kang sarwa tinandur, murah kang sarwa tinuku.
“Perintahkan
salah seorang cantrik untuk melaporkan kedatangan Raden Wirasena ini,”
tiba-tiba orang berkumis tipis itu berdesis perlahan kepada cantrik Bonggol
yang berjalan di sampingnya.
Cantrik Bonggol pun tanggap. Segera saja
salah seorang cantrik yang berjalan beberapa langkah di belakangnya diberi
isyarat untuk maju mendekatinya.
“Laporkan kepada Raden Surengpati bahwa Kakandanya
telah hadir di tengah-tengah kita,” bisiknya kemudian.
Cantrik itu tampak mengerutkan keningnya.
Tanyanya kemudian dengan nada sedikit ragu-ragu, “Bukankah Raden Surengpati
sedang sakit?”
“Aku tahu,” sahut Cantrik Bonggol cepat, “Tapi
sebelum aku pergi ke tempat ini, aku lihat Raden Surengpati sudah mampu duduk
bersandaran pada sebatang pohon. Semoga berita kedatangan Kakandanya ini akan
semakin memacu semangatnya untuk segera sembuh.”
Cantrik itu tampak menarik nafas
dalam-dalam sambil mengangguk-angguk. Tanpa bertanya lagi, dia segera
memisahkan diri dengan kawan-kawannya dan berjalan kembali ke dalam hutan.
Senin, 11 Maret 2019
STSD 13_06
Eyang Guru tersenyum sambil memandang
wajah Raden Wirasena dan Soma berganti-ganti. Agaknya Eyang Guru berusaha
menghilangkan kesan ketegangan itu dari wajahnya. Maka jawabnya kemudian,
“Baiklah Raden, aku akan membasuh wajah dan kedua lenganku. Setelah itu kita
meneruskan perjalanan.”
Demikianlah setelah Eyang Guru selesai membersihkan
diri secukupnya, ketiga orang itu segera naik ke tanggul sungai yang tidak
seberapa tinggi. Sejenak kemudian ketiga orang itu pun telah berderap kembali
di atas kuda masing-masing.
Dalam pada itu, di hutan sebelah barat
kaki bukit Tidar, di antara pepatnya pepohonan dan lebatnya gerumbul di pinggir
hutan yang memisahkan hutan itu dengan sebuah gumuk kecil, tampak beberapa
orang sedang berjaga-jaga.
Sebagian ada yang duduk-duduk di bawah
pohon yang menjorok agak ke dalam sehingga terlindung dari pandangan luar,
sebagian justru telah memanjat dan duduk di atas cabang-cabang pohon yang
tinggi.
Di hadapan hutan sebelah barat kaki
gunung Tidar itu terhampar tanah yang cukup luas dengan berbagai macam tanaman
buah-buahan maupun pepohonan liar bercampur jadi satu. Agaknya tanah bera itu adalah bekas pategalan yang
pernah digarap akan tetapi telah ditinggalkan oleh pemiliknya.
Tanah bekas pategalan itu sangat luas.
Mungkin dulunya telah diolah oleh beberapa orang namun karena jauh dari sumber
air, akhirnya ditinggalkan begitu saja.
Beberapa pohon buah-buahan yang sempat
ditanam ternyata mampu bertahan dan tumbuh menjulang. Sedangkan berbagai jenis
tanaman palawija yang diusahakan ternyata tidak menghasilkan panen yang
memuaskan. Sebagai gantinya telah tumbuh gerumbul-gerumbul dan perdu liar serta
tanaman menjalar yang menutupi hampir seluruh tanah bekas pategalan itu.
“Apakah engkau telah melihat sesuatu?”
tiba-tiba terdengar suara seseorang bertanya dari bawah sebatang pohon besar
yang digunakan oleh beberapa orang untuk mengawasi keadaan.
“Belum Kakang Bonggol,” jawab salah
seorang yang sedang duduk-duduk di atas sebuah cabang pohon yang tinggi itu,
“Sedari tadi kami terus mengamati keadaan dan belum terlihat tanda-tanda kakang
Soma telah kembali.”
Orang yang dipanggil kakang Bonggol itu
tampak mengerutkan keningnya dalam-dalam sambil berusaha mempertajam pandangan
matanya. Namun yang terlihat di hadapannya hanyalah hamparan pategalan yang
hampir berubah menjadi sebuah hutan kecil.
Untuk beberapa saat cantrik Bonggol masih
berdiri termangu-mangu di bawah pohon itu. Baru setelah menarik nafas dalam-dalam dia pun
kemudian melangkah pergi sambil berkata, “Terus amati keadaan. Menurut
perhitunganku, jika Soma memang dapat menjumpai mereka, setelah Matahari tergelincir
ke barat, barulah mereka akan memasuki daerah ini.”
Namun langkahnya tertegun ketika salah
seorang anak buahnya yang berada di cabang paling tinggi telah berteriak, “Kakang
Bonggol..! Aku melihat tiga ekor kuda!
Ya ..! Tiga ekor kuda sedang berpacu ke arah tempat ini!”
Dengan bergegas cantrik Bonggol segera
berbalik dan melangkah ke tempat yang lebih terbuka. Namun karena tanah
pategalan itu telah hampir menjadi sebuah hutan kecil, pandangan matanya
terhalang oleh pepohonan dan gerumbul liar yang tumbuh menjulang tinggi.
Sedangkan beberapa orang yang berada di
cabang yang rendah berusaha untuk memanjat lebih tinggi agar pandangan mata
mereka tidak terhalang.
“Ya..! Aku juga melihatnya..!” tiba-tiba
salah seorang dari mereka ikut berteriak.
“Tiga ekor kuda..!!” teriak yang lain tak
kalah kerasnya.
“Ya..ya. aku juga telah melihatnya!!”
timpal yang lain.
“Mereka keluar dari balik gumuk kecil
itu..!!” seru orang pertama yang melihat ketiga penunggang kuda itu.
“Diam..!!” tiba-tiba terdengar cantrik
Bonggol membentak keras sehingga telah mengejutkan anak buahnya yang sedang
berada di atas pohon. Sementara beberapa orang yang tersebar di gerumbul dan
batang-batang perdu telah tertarik dengan keributan itu dan melangkah mendekat.
“Ada apa ribut-ribut?” bertanya seorang
yang berkumis tipis dan berjangggut jarang sesampainya dia di hadapan cantrik
Bonggol.
Cantrik Bonggol berpaling sekilas.
Jawabnya kemudian, “Para pengawas telah melihat tiga penunggang kuda dari balik
gumuk kecil itu dan sedang berpacu ke tempat ini. Namun sikap mereka sungguh
memuakkan. Berteriak-teriak seperti laku anjing-anjing pemburu yang melihat seekor
pelanduk sembunyi dalam semak.”
Orang-orang yang sedang berada di atas
pohon itu terdiam mendengar kata-kata cantrik yang dituakan diantara mereka. Sedangkan
orang yang berkumir tipis dan berjanggut jarang itu telah mendongakkan
kepalanya ke atas. Katanya kemudian, “Kalian para pengawas tidak selayaknya
berbuat demikian. Kita belum tahu siapa yang datang. Segala sesuatunya harus
dilakukan dalam keadaan senyap namun tetap dalam kesiap siagaan yang tinggi,”
orang itu berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Nah, sekarang apakah kalian
sudah dapat mengenali siapa mereka?”
Senin, 04 Maret 2019
STSD 13_05
“Gila!” geram seorang penunggang kuda
yang terlihat masih muda dibanding dengan kedua kawan seperjalanannya, “Menurut
perhitunganku, sebelum Matahari sepenggalah kita sudah sampai di kaki bukit
Tidar sebelah barat. Namun padang perdu ini ternyata cukup sulit untuk dilewati
dengan berpacu kencang.”
“Ya, Raden,” jawab penunggang kuda di
sebelahnya yang terlihat sudah tua namun masih tampak segar dan kuat, “Namun
kita masih punya cukup waktu. Setidaknya kita akan mengirim utusan ke padepokan
Setra Gandamayit sebelum Matahari sampai puncaknya.”
Orang yang dipanggil Raden itu
mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian sambil berpaling ke belakang dia
bertanya, “Soma, apakah tujuan kita masih jauh?”
Orang yang berkuda di belakang itu segera
memacu kudanya menjajari kedua kuda yang ada di depan. Jawab Soma kemudian,
“Sudah cukup dekat Raden. Setelah padang perdu ini kita berbelok ke kiri dan
menelusuri tepian sebuah sungai kecil yang dangkal. Sebelum sungai itu berkelok
ke barat, kita berjalan terus dan kemudian menerobos hutan di kaki bukit Tidar
sebelah barat.”
Orang yang dipanggil Raden itu menarik
nafas dalam-dalam sambil tetap memacu kudanya dengan kecepatan sedang
menghindari gerumbul-gerumbul perdu yang banyak bertebaran di padang rumput
itu.
“Untunglah kita mendapatkan kuda, Raden,”
desis orang yang terlihat sudah sangat sepuh itu, “Jika tidak, mungkin baru
sirep bocah kita akan sampai di tujuan.”
Orang yang dipanggil Raden itu tertawa
pendek. Katanya kemudian, “Eyang guru benar. Aku tadi sudah hampir putus asa untuk
mendapatkan ketiga ekor kuda ini. Untunglah pemilik kuda itu tertarik dengan
timang emas yang sedang aku pakai.”
“Sebenarnya aku lebih senang mencekiknya saja
sampai mati untuk mendapatkan ketiga ekor kuda ini,” geram orang yang sudah
sangat sepuh itu yang ternyata adalah Eyang guru, “Raden terlalu berbaik hati.
Dalam keadaan yang serba tidak menentu ini, kita harus berani mengambil
keputusan cepat. Apapun akibat yang akan ditimbulkannya.”
Raden Wirasena yang berkuda di sebelahnya
tidak menjawab. Hanya tampak keningnya saja yang sedikit berkerut. Sementara
Soma yang kembali berkuda di belakang telah menarik nafas dalam-dalam.
Demikianlah ketiga ekor kuda berserta
penunggangnya itu pun akhirnya keluar dari padang perdu yang cukup luas itu.
Ketika mereka kemudian berbelok ke kiri, sesuai dengan petunjuk Soma, mereka
telah menjumpai sebuah sungai yang dangkal dan tidak seberapa lebar namun
berair sangat bening. Suara gemericik air di sela-sela batu-batu yang banyak
berserakan di dalam sungai itu terdengar sangat merdu dan terasa menyejukkan kalbu.
Tanpa sadar raden Wirasena memperlambat
laju kudanya sambil mengamat-amati sungai yang bertebing landai itu. Eyang Guru
dan Soma pun ikut memperlambat kuda mereka.
“Apakah Raden berkenan membersihkan diri
di sungai itu?” tiba-tiba pertanyaan itu
terlontar begitu saja dari Eyang Guru.
Sejenak Raden Wirasena mengerutkan
keningnya. Dia dan Eyang Guru memang telah menempuh perjalanan semalam suntuk
dan sama sekali belum bersentuhan dengan air. Adalah kurang pada tempatnya jika
dia dan Eyang Guru terlihat sangat kusut sesampainya mereka berdua nanti di
hadapan para pengikutnya.
“Baiklah,” jawab Raden Wirasena kemudian
sambil mengekang kudanya sehingga berhenti. Sambil meloncat turun Raden
Wirasena meneruskan, “Kita membersihkan diri seperlunya sebelum mencapai hutan
sebelah barat kaki bukit Tidar.”
Eyang Guru dan Soma pun serentak ikut
mengekang kuda mereka dan mengikuti Raden Wirasena meloncat turun.
Setelah menambatkan kuda-kuda mereka pada
batang-batang perdu yang banyak terdapat di tanggul sungai itu, ketiga orang
itu pun kemudian menuruni lereng sungai yang landai menuju ke sungai.
Begitu kaki-kaki mereka bersentuhan
dengan beningnya air sungai itu, terasa betapa sejuknya air sungai itu
membasahi kaki-kaki mereka.
Agaknya Soma yang tidak dapat menahan diri.
Segera saja dia membungkuk dan mengambil air yang bening dan sejuk itu dengan
kedua telapak tangannya.
“Alangkah segarnya,” desis Soma sambil
menyiramkan air itu ke wajahnya. Merasa kurang puas, Soma pun kemudian
mengulanginya beberapa kali.
Raden Wirasena tersenyum melihat tingkah
Soma. Namun orang yang mengaku Trah Sekar Seda Lepen itu pun akhirnya mengikuti
apa yang telah dilakukan Soma, membasahi wajahnya dengan air sungai yang bening
dan sejuk.
Sedangkan Eyang Guru untuk beberapa saat
masih termangu-mangu di tepian yang basah. Kedua kakinya terendam air sungai hanya
sebatas mata kaki. Namun tampak Eyang Guru sedang memusatkan segenap
kemampuannya untuk mendengarkan segala jenis bunyi di sekitarnya.
Bahkan ketika Eyang Guru kemudian kurang
yakin dengan apa yang telah didengarnya, segera saja dia menyilangkan kedua
tangannya di depan dada sambil menunduk dalam-dalam dan memejamkan kedua
matanya.
Raden Wirasena dan Soma tampak
terheran-heran melihat tingkah Eyang Guru itu. Namun keduanya hanya membiarkan
saja terutama Raden Wirasena. Orang yang mengaku Trah Sekar Seda Lepen itu
sadar sepenuhnya bahwa mungkin Eyang Guru telah mendengar sebuah desir yang
mencurigakan.
“Apakah desir yang sekarang ditangkap
oleh Eyang Guru adalah sama dengan desir yang terdengar beberapa saat yang
lalu?” bertanya Raden Wirasena dalam hati dengan jantung yang berdebaran.
Namun Eyang Guru tidak terlalu lama.
Segera saja diurai kedua tangannya yang bersilang di dada dan diangkat wajahnya
sambil tersenyum. Katanya kemudian, “Marilah Raden. Pendengaran orang setua ini
ternyata semakin kabur dan menyesatkan. Atau mungkin kegelisahanku sajalah yang
telah mempengaruhi ketajaman panca indraku.”
Raden Wirasena sejenak tertegun mendengar
uraian Eyang Guru. Diam-diam kecemasan menggores jantungnya walaupun hanya
sesaat. Maka tanyanya kemudian, “Baiklah Eyang Guru. Tetapi apakah Eyang Guru
tidak ingin sekedar mencuci muka agar terasa lebih segar sebelum melanjutkan
perjalanan?”
Sejenak Eyang Gurur ragu-ragu.
Dipandanginya pohon besar yang tumbuh menjulang di tepian seberang sungai.
Beberapa saat tadi Eyang Guru melihat daun-daun pohon itu bergetar dengan tidak
sewajarnya.
“Aneh,” berkata Eyang Guru kemudian dalam
hati sambil kembali mengamat-amati pohon di seberang sungai itu, “Aku tadi
sekilas melihat daun-daun pohon itu bergetar dengan tidak sewajarnya. Jika
angin yang sangat lembut bertiup menerpa pohon itu, tentu getaran daun-daunnya
tidak akan cepat dan sesingkat itu.”
Namun Eyang Guru sudah mencoba menangkap
semua getaran di sekelilling tepian itu akan tetapi tidak mendapatkan sesuatupun yang mencurigakan.
“Eyang Guru?” tiba-tiba suara Raden
Wirasena membangunkan lamunannya.
Selasa, 26 Februari 2019
STSD 13_04
“Ah, sudahlah,”
berkata Ki Jayaraga kemudian sambil menggeliat dan menjelujurkan kedua kakinya
di amben bambu tempat tidurnya, “Mengenang masa lalu tentu tak akan ada
habis-habisnya. Biarlah masa lalu tetap menjadi kenangan, sedangkan masa depan
adalah harapan,” Ki Jayaraga berhenti sejenak. Kemudian sambil memejamkan kedua
matanya dan menyilangkan kedua tangannya di dada dia melanjutkan, “Aku tadi
sebenarnya sudah begitu penat menunggu kedatangan kalian berdua. Sekarang aku
akan melanjutkan mimpiku yang sempat terputus. Masih cukup waktu untuk sekedar
memejamkan mata,” kembali Ki Jayaraga berhenti sejenak. Setelah menguap
lebar-lebar dan menutupinya dengan salah satu tangannya, Ki Jayaraga pun
kemudian melanjutkan kata-katanya kembali, “Biarlah orang berkerudung itu tetap
menjadi rahasia Ki Waskita”
Ki Waskita dan Ki
Bango Lamatan tersenyum mendengar kata-kata guru Glagah Putih itu. Sahut Ki
Waskita kemudian, “O, silahkan Ki. Semoga masih bisa mimpi indah di sisa malam
ini. Siapa tahu, di alam mimpi nanti Ki Jayaraga akan bertemu dengan orang
berkerudung itu.”
“Ah!” Ki Jayaraga
yang sudah memejamkan kedua matanya itu masih sempat tertawa pendek. Sementara Ki
Bango Lamatan hanya tersenyum kecut.
“Tapi aku tidak akan
mengejarnya,” berkata Ki Jayaraga kemudian sambil tetap memejamkan matanya, “Aku
akan berusaha sekuat tenaga untuk membujuknya agar dengan suka rela dia mau membuka
kerudungnya.”
Ki Waskita dan Ki
Bango Lamatan berpandangan sejenak mendengar gurauan Ki Jayaraga. Namun Ki
Waskitalah yang kemudian bertanya, “Tapi bagaimana jika setelah membuka
kerudungnya, ternyata dia seorang perempuan yang masih muda dan sangat cantik?”
“Aku akan
mengawininya,” sahut Ki Jayaraga acuh sambil memutar tubuhnya menghadap
dinding.
“Ah!” tawa kedua
orang tua itupun meledak sehingga terdengar kembali sampai di regol depan
banjar padukuhan induk.
“Ah, sudahlah,”
berkata Ki Jayaraga kemudian sambil tetap menghadap dinding, “Bagaimana aku
bisa bermimpi jika kalian tetap saja mengajakku berbicara.”
Kedua orang tua itu
tersenyum. Berkata Ki Waskita kemudian, “Baiklah Ki Jayaraga, kami berdua juga
akan beristirahat.”
“Silahkan, silahkan,”
sahut Ki Jayaraga hampir tak terdengar di antara suara desah nafasnya yang mulai
terdengar dalam irama pelan dan teratur.
Kedua orang tua itu sejenak
masih saling berpandangan. Namun setelah Ki Waskita memberi isyarat kepada Ki
Bango Lamatan, kedua orang tua itupun dengan perlahan segera beranjak dari tempat duduk mereka.
“Aku akan tidur
sampai Matahari naik sepenggalah,” desis Ki Waskita kemudian sambil berjalan menuju
pembaringannya.
Ki Bango Lamatan tidak
menanggapi. Setelah menguap lebar-lebar dia pun segera menjatuhkan dirinya di
amben bambu sebelah Ki Waskita. Terdengar amben bambu itu berderak-derak
tertimpa tubuh Ki Bango Lamatan yang tinggi besar.
Ki Jayaraga yang
terlihat mulai terlelap itu memang sempat membuka kedua matanya sekejap
mendengar suara amben bambu yang berderak-derak. Namun selanjutnya guru Glagah
Putih itu pun sudah kembali memejamkan kedua matanya dan terbuai dalam alam
mimpi.
Dalam pada itu, langit sebelah timur
mulai terlihat bayangan cerah sinar Matahari pagi yang perlahan tapi pasti
menjenguk cakrawala. Suasana alam yang semula diliputi kegelapan perlahan
menjadi terang. Burung-burungpun mulai berkicau bersahut sahutan di dahan-dahan
pepohonan yang rendah. Sementara sekelompok tupai tampak berloncat-loncatan
dari dahan ke dahan sambil memperdengarkan lengkingan-lengkingan merdu mereka seakan
menyambut sinar Matahari yang pertama kali menyentuh bumi.
Di kediaman Ki Gede Matesih, tampak Ratri
dengan tergesa-gesa keluar dari biliknya. Sejenak dipandanginya ruang tengah
yang luas itu untuk beberapa saat. Rasa-rasanya dia menangkap sebuah getaran
yang aneh yang menyelinap ke dalam lubuk hatinya.
“Aneh,” berkata Ratri kemudian dalam hati
sambil mengedarkan pandangan matanya ke seluruh ruangan, “Sepertinya aku
merasakan sesuatu yang kurang dalam ruang tengah ini. Tapi aku tidak tahu
apakah itu?”
Untuk beberapa saat Ratri masih berdiri
termangu-mangu. Dikerahkan seluruh daya ingatnya untuk mencoba menjawab pertanyaan
dalam hatinya itu.
“Mengapa ruangan ini terasa asing
bagiku?” pertanyaan itu hilir mudik dalam benaknya, “Sepertinya aku tidak
melihat sesuatu yang biasanya aku lihat setiap pagi di ruangan ini.”
Tiba-tiba Ratri bagaikan terbangun dari
sebuah mimpi buruk. Bayangan seseorang yang sudah sangat dikenalnya melintas
cepat dalam benaknya.
“Mbok Pariyem?!” seru Ratri tiba-tiba dengan
suara sedikit tertahan, “Ya, mbok Pariyem. Setiap pagi mbok Pariyem selalu membersihkan
ruangan ini. Setelah aku terbangun dan keluar bilik, mbok Pariyem selalu menyambutku
dengan sebuah senyuman sambil memandangku dengan pandangan yang penuh kasih
sayang.”
Berpikir sampai disitu, Ratri segera
bergegas melintasi ruang tengah menuju ke pintu yang menghubungkan ruang tengah
dengan dapur.
“Mungkin mbok Pariyem bangun kesiangan,”
desis Ratri dalam hati sambil mempercepat langkahnya, “Semalam mungkin dia terlalu
lelah dan letih mencari aku yang menghilang, sehingga sampai saat ini mungkin dia
belum bangun. Aku akan ke biliknya.”
Ketika Ratri kemudian sampai di depan
pintu yang menghubungkan ruang tengah dengan dapur, segera saja jari-jari yang
lentik itu membuka pintu.
Namun alangkah terkejutnya anak gadis
satu-satu Ki Gede Matesih itu. Di tengah tengah dapur yang cukup luas itu,
beberapa pembantu perempuan Ki Gede tampak sedang duduk dengan gelisah di atas
amben yang cukup besar. Begitu mereka melihat Ratri tiba-tiba saja muncul dari balik pintu, serentak mereka segera
berdiri dan kemudian dengan tergesa-gesa menghambur ke arahnya.
“Nimas Ratri, di manakah mbok Pariyem?”
bertanya salah seorang yang bertubuh gemuk sesampainya di depan Ratri.
“Ya nduk. Di mana mbok Pariyem? Kami
tidak tahu harus berbuat apa tanpa ada perintah dari mbok Pariyem,” sela
perempuan yang berbadan kekurus-kurusan.
“Ya,ya. Kami sedari tadi belum melihatnya,”
seorang perempuan parobaya menyahut, “Aku sudah mencoba melongok di biliknya.
Tapi biliknya kosong.”
“Geledeg di biliknya pun kosong, tidak
ada selembar pakaian mbok Pariyem yang tersisa,” kembali yang lain menyahut.
“Jangan jangan dia sengaja meninggalkan
rumah Ki Gede,” timpal yang lain, “Tapi mengapa dia pergi tanpa pesan? Terutama
kepada kita yang telah bersama-sama ikut membantu rumah tangga Ki Gede ini?”
Pertanyaan bertubi-tubi dari para
perempuan pembantu rumah Ki Gede itu benar-benar membuat Ratri bagaikan membeku
di tempatnya. Berbagai perasaan bergolak dalam dadanya. Apa yang disampaikan
perempuan-perempuan itu benar-benar telah membekukan jantungnya.
“Mbok Pariyem..?” desah Ratri tanpa sadar
dengan suara yang lirih dan bergetar. Hanya kata-kata itu yang terucap dari
bibir mungil memerah delima itu. Selanjutnya pandangan matanya pun mulai
berkunang-kunang. Ketika sebuah desah
kembali terdengar dari bibir mungilnya, tubuhnya pun limbung ke samping.
Jika saja salah satu perempuan pembantu
Ki Gede yang berdiri paling dekat tidak segera memeluknya, tentu tubuh Ratri
sudah terjatuh di lantai dapur.
“Nimas Ratrii..!!” serentak
perempuan-perempuan pembantu Ki Gede Matesih itupun menjerit keras sambil
berusaha meraih tubuh Ratri yang limbung dalam pelukan salah satu dari mereka.
“Nduk, sadar..nduk.. nyebut..nyebut!”
beberapa perempuan itu tampak berusaha membisikkan doa-doa ke telinga Ratri.
Sementara yang lainnya dengan susah payah berusaha membopong Ratri dan
membaringkannya di amben besar yang terletak di tengah-tengah ruangan dapur.
Beberapa orang segera memijit-mijit
telapak kaki dan pelipis putri satu-satunya Ki Gede Matesih itu. Sedangkan yang
lain telah mengambil minyak kelapa yang masih baru dan kemudian dicampur dengan bawang merah yang telah dilumatkan
terlebih dahulu.
“Bawalah kesini,” pinta seorang perempuan
parobaya meminta minyak kelapa yang telah dicampur dengan lumatan bawang merah
itu.
Seseorang segera mengangsurkan sebuah
mangkuk yang berisi ramuan minyak kelapa dan bawang merah. Dengan cekatan
perempuan parobaya itupun kemudian mengoleskan ramuan itu ke pelipis dan
telapak kaki Ratri. Sementara perempuan-perempuan pembantu rumah Ki Gede yang
lain segera ikut merubung dan membantu memijit-mijit kaki, tangan serta pundak
Ratri.
“Pergilah ke regol depan,” tiba-tiba
perempuan parobaya itu menghentikan pijitannya dan menoleh ke arah perempuan
yang duduk di sebelahnya, “Beritahu pengawal yang sedang jaga untuk melaporkan
kejadian ini kepada Ki Gede.”
“Tapi Ki Gede belum pulang,” sahut
perempuan yang bertubuh agak gemuk itu dengan serta merta.
“Makanya aku minta engkau memberitahu
salah satu pengawal untuk menyusul Ki Gede!” sela perempuan parobaya itu dengan
suara sedikit keras.
Perintah itu tidak perlu diulangi lagi.
Dengan bergegas perempuan pembantu Ki Gede yang bertubuh agak gemuk itu segera
bangkit dan dengan setengah berlari meninggalkan dapur menuju ke regol depan.
Dalam pada itu Matahari telah memanjat
kaki langit sebelah timur semakin tinggi. Walaupun sinarnya masih belum
menggatalkan kulit, namun udara mulai terasa hangat dan badan pun mulai
dibasahi oleh bulir-bulir keringat.
Di tengah padang perdu di sebelah selatan
gunung Tidar tampak tiga ekor kuda dipacu dengan tergesa-gesa. Walaupun ketiga
penunggangnya itu sudah berusaha membuat kuda-kuda mereka melaju dengan
kencang, namun gerumbul-gerumbul perdu yang tumbuh berserakan telah menghambat
laju kuda-kuda mereka.
Senin, 25 Februari 2019
STSD 13_03
Dalam pada itu, di
dalam bilik banjar padukuhan induk, ketiga orang tua itu ternyata masih
meneruskan perbincangan mereka.
“Ki Bango Lamatan,”
berkata Ki Jayaraga kemudian setelah tawa mereka mereda, “Apakah Ki Bango
Lamatan mengenal juga guru Ki Rangga Agung Sedayu, Kiai Gringsing atau yang
lebih dikenal sebagai orang bercambuk? Beliau adalah salah satu angkatan tua
yang sudah meninggalkan kita. Namun kedahsyatan ilmunya sampai sekarang masih
dikenang. Pada saat terjadi perang tanding antara orang bercambuk melawan orang
yang disebut Kakang Panji, sebuah nama yang selalu membayangi pemerintahan
Pajang pada waktu itu, mereka berdua telah mengeluarkan berbagai jenis ilmu
yang saat ini sudah sangat jarang kita temui.”
Ki Waskita yang
mendengar pertanyaan guru Glagah Putih itu tampak terkejut. Namun dengan cepat
segera dihapusnya kesan itu dari wajahnya. Sedangkan Ki Bango Lamatan tampak
mengerutkan keningnya dalam-dalam.
Setelah terlebih
dahulu menarik nafas panjang, barulah Ki Bango Lamatan kemudian menjawab sambil
menggelengkan kepalanya, “Aku tidak mengenal kehidupan pribadinya secara utuh.
Aku hanya mendengar kedahsyatan ilmunya yang disadap dari sebuah perguruan yang
pernah berjaya di masa akhir kerajaan Majapahit. Itu pun menurut penuturan
Kecruk Putih yang bergelar Panembahan Cahya Warastra,” Ki Bango Lamatan
berhenti sebentar untuk sekedar menarik nafas. Lanjutnya kemudian, “Namun
kedahsyatan ilmunya itu telah aku rasakan sendiri walaupun secara tidak
langsung.”
Hampir bersamaan Ki
Waskita dan Ki Jayaraga mengerutkan kening mereka dalam-dalam. Bertanya Ki
Jayaraga kemudian, “Maksud Ki Bango Lamatan?”
Ki Bango Lamatan
menarik nafas panjang terlebih dahulu untuk meredakan dadanya yang tiba-tiba
saja terasa pepat. Kenangan pahit itu memang tidak akan pernah terlupakan
sepanjang hidupnya.
“Pada awalnya aku
mendapat tugas dari Panembahan Cahya Warastra atau Kecruk Putih untuk menemui
dan sekaligus membujuk orang bercambuk itu agar bersedia bergabung dengannya,
atau setidak-tidaknya tidak berpihak atau mengambil peran baik kepada Mataram maupun
Madiun,” jawab Ki Bango Lamatan kemudian memulai ceritanya.
“Kecruk Putih yang
mana? Yang terbunuh oleh Ki Patih Mandaraka ataukah saudara kembarnya yang
mampu mateg aji Brahala Wuru namun yang mampu dijinakkan oleh Ki Rangga Agung Sedayu?”
Ki Waskita yang beberapa saat hanya diam saja kemudian dengan serta merta
menyahut.
Ki Bango Lamatan
tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Ki Waskita. Berbagai kenangan dengan
saudara kembar Panembahan Cahya Warastra itupun melintas sekilas dalam
benaknya.
“Tentu saja Kecruk Putih
yang sebenarnya, Ki,” jawab Ki Bango Lamatan kemudian, “Saudara kembar Kecruk Putih
itu tidak begitu mengenal keadaan di tanah Jawa ini. Waktunya dihabiskan untuk
menuntut ilmu jauh di tanah seberang.”
Hampir bersamaan kepala
kedua orang tua itu terangguk-angguk. Sejenak kemudian suasana menjadi sepi.
Ketiga orang tua itu pun tampaknya sedang terombang-ambing oleh kenangan masa
lalu yang mengasyikkan.
“Bagaimana cerita
selanjutnya, Ki? Apakah Ki Bango Lamatan berhasil menjumpai orang bercambuk
itu?” bertanya Ki Jayaraga kemudian memecah kesepian.
“Ya, aku berhasil
menjumpainya di tepian kali opak,” jawab Ki Bango Lamatan sambil menganggukkan
kepalanya.
“Apa jawab orang
bercambuk itu, Ki?” desak Ki Jayaraga yang terlihat sangat penasaran itu.
Kembali Ki Bango
Lamatan menarik nafas panjang. Ada segores luka yang masih membekas di
jantungnya walaupun kini luka itu telah sembuh berkat nasihat dan petunjuk
tentang kawruh kehidupan dari Ki Ajar Mintaraga. Namun bekas luka itu tidak
akan pernah hilang sepanjang hayat masing dikandung badan.
“Bagaimana, Ki?”
kembali terdengar Ki Jayaraga mengajukan sebuah pertanyaan begitu dilihatnya Ki
Bango Lamatan justru termenung sejenak.
Ki Bango Lamatan
tersenyum mendengar pertanyaan orang yang pernah malang melintang dalam
bayang-bayang kehidupan kelam itu. Jawabnya kemudian, “Aku terlalu yakin dengan
kemampuanku dan menganggap kemampuan orang bercambuk itu masih selapis di
bawahku. Walaupun sebenarnya sebelum berangkat menunaikan tugas, Panembahan
Cahya Warastra telah mewanti-wanti jangan sampai aku melukai hatinya ataupun
membuatnya gusar.”
Kembali kedua orang
tua itu tampak mengerutkan kening mereka dalam-dalam. Dalam hati mereka berdua
menduga bahwa Ki Bango Lamatan tentu telah membuat Kiai Gringsing itu tersinggung
dan dengan ilmunya yang sangat tinggi telah mengusir Ki Bango Lamatan.
“Apakah orang
bercambuk itu kemudian menjadi tersinggung dan mengusir Ki Bango Lamatan?”
akhirnya pertanyaan yang menggumpal dalam dada Ki Jayaraga itu pun terlontar
keluar.
Namun jawaban Ki
Bango Lamatan justru telah membuat kedua orang itu itu terheran-heran.
Sambil menggeleng
lemah, Ki Bango Lamatan pun kemudian menjawab, “Tidak, Ki. Orang bercambuk itu
tidak berbuat apa-apa kepadaku. Justru muridnya yang bernama Agung Sedayu itulah
yang telah mampu mematahkan kesombonganku selama ini.”
“He?!” serentak kedua
orang itu pun berseru tertahan dengan nada penuh keheranan.
Untuk sejenak bilik
di ruang dalam banjar padukuhan itu menjadi sunyi. Ki Waskita dan Ki Jayaraga
benar-benar tidak habis mengerti. Ki Bango Lamatan dapat dikatakan termasuk
golongan angkatan tua pada saat itu, walaupun tentu saja belum dapat
disejajarkan dengan Kiai Gringsing. Namun penjelasan Ki Bango Lamatan yang baru
saja mereka dengar benar-benar di luar nalar.
“Seingatku sebelum
pecah perang antara Mataram dengan Madiun kemampuan Angger Agung Sedayu belum menyamai
gurunya, walaupun sudah dapat dikatakan jarang ada tandingannya,” berkata Ki
Waskita kemudian perlahan seolah ditujukan kepada dirinya sendiri.
“Ada satu kelebihan
yang dimiliki oleh Ki Rangga Agung Sedayu,” tiba-tiba saja Ki Bango Lamatan
menyela, “Selain berilmu tinggi, Ki Rangga selalu menggunakan otaknya dalam
mengatasi setiap permasalahan yang timbul, baik dalam pertempuan maupun di luar
pertempuran.”
“Ki Bango Lamatan
benar,” sahut Ki jayaraga dengan serta merta. Sedangkan Ki Waskita hanya
mengangguk-anggukkan kepalanya karena Ki Waskita sudah membuktikan sendiri.
Betapa kemampuan otak Ki Rangga memang sangat cemerlang. Hanya dalam waktu
semalam mampu menghafal isi kitab peninggalan perguruan Ki Waskita yang dipinjamkan
kepadanya.
“Jarang ada yang
memiliki kemampuan seperti itu,” berkata Ki Waskita dalam hati, “Pada awalnya
aku mengira Angger Agung Sedayu hanya akan membaca dan menghafal salah satu
dari sekian banyak jenis ilmu yang terdapat dalam kitab itu. Namun ternyata dia
justru membaca dan menghafal seluruh isi
kitab itu dan memahatkannya di dinding-dinding hatinya untuk di kemudian hari, satu
persatu dipelajari dan ditekuninya sampai tuntas.”
Langganan:
Postingan
(
Atom
)