Kamis, 24 Agustus 2017

Woro-woro

Para CanMen Yth,

Alhamdulillah setelah di install ulang, laptop bisa digunakan lagi namun dengan resiko samua data hilang.
Dengan ini mbah man mohon maaf yang sebesar-besarnya jika wedaran JJYT dan STSD 07 jadi mundur dan mundur terus.
Untuk JJYT akan segera diwedar rencana minggu depan, sedangkan STSD 07 menurut beberapa masukan dari CanMen, lebih baik di wedar di Taman Bacaan dan GGST seperti dulu lagi setiap hari, agar para CanMen bergairah mengunjungi gandhok.
Silahkan menyatakan pendapatnya, setuju atau tidak setuju.
matur suwun

padepokan Sekar Keluwih
Sidoarjo

mbah man

Sabtu, 05 Agustus 2017

STSD 06

@ Cantrik Mentrik Yth,

bagi yang belum dapat kiriman STSD 06, silahkan daftar di sini
matur suwun

mbah man

Senin, 31 Juli 2017

woro2 STSD jilid 06

@ cantrik mentrik ingkang dahat kinurmatan

sehubungan dengan padatnya kegiatan mbah man, penerbitan STSD jilid 06 agak tertunda.
diusahakan minggu ini selesai, mohon dimaafkan
matur suwun

salam,
mbah man

Jumat, 07 Juli 2017

Lanjutan JJYT 01

Sejenak kemudian keempat tamu-tamu itupun segera melintasi halaman padepokan yang luas untuk kemudian menaiki pendapa ditemani oleh Widarba dan Wregu. Sementara kuda-kuda mereka telah ditambatkan di sebelah kanan pendapa.

“Silahkan,” berkata Widarba kemudian sambil mempersilahkan tamu-tamunya mengambil tempat duduk di atas tikar pandan yang putih bersih. Setelah tamu-tamunya duduk, barulah Widarba dan Wregu mengikuti duduk menghadap ke arah tamu-tamunya.

Sebagaimana suba sita yang berlaku di kehidupan bebrayan, Widarba pun terlebih dahulu menanyakan keselamatan tamu-tamunya selama dalam perjalanan sebelum  memulai pembicaraan.

“Nah,” berkata Widarba selanjutnya, “Jika Ki Putut Gagar Mayang tidak berkeberatan, kami ingin mengetahui serba sedikit tentang perguruan Blarak Sineret di kaki gunung Sindara itu.”

Tampak Putut Gagar Mayang menarik nafas panjang sambil berpaling ke arah adik-adik seperguruannya. Namun agaknya mereka telah menyerahkan persoalan itu sepenuhnya kepada kakak seperguruan mereka.

“Baiklah Ki Widarba,” jawab Putut Gagar Mayang kemudian sambil menggeser duduknya setapak ke depan, “Perguruan Blarak Sineret memang terhitung perguruan yang masih baru, sehingga wajar jika kalian belum pernah mendengarnya.”

Hampir bersamaan Widarba dan Wregu mengangguk-angguk. Bertanya Widarba kemudian, “Siapakah yang menjadi pemimpin perguruan Blarak Sineret sekarang ini?”

“Kiai Sarpa Sri,” jawab Putut Gagar Mayang dengan serta merta.

Jika ada guntur meledak di langit di siang hari itu, tentu Widarba tidak akan sekaget mendengar jawaban Putut Gagar Mayang.

“Kiai Sarpa Sri?” seru Widarba dengan jantung yang berdebaran. Sedangkan Wregu yang duduk di sebelahnya hanya dapat mengerutkan keningnya dalam-dalam.

Bagi Wregu nama Kiai Sarpa Sri memang belum didengarnya sehingga tidak berpengaruh sama sekali. Namun sebaliknya bagi  Widarba, nama Kiai Sarpa Sri sudah tidak asing lagi di telinganya. Nama yang selalu menggetarkan dadanya jika setiap kali dia teringat akan nama itu.

“Apakah Ki Widarba mengenal nama itu?” bertanya Putut Gagar Mayang kemudian begitu melihat raut wajah Widarba berubah tegang.

Namun sebelum Widarba menjawab, terdengar pintu pringgitan berderit perlahan. Serentak orang-orang yang sedang berada di pendapa itupun segera berpaling. Tampak  seseorang yang sudah sangat dikenal oleh Widarba dan Wregu muncul dari balik pintu.

“Ki Surapada,” tanpa sadar Widarba dan Wregu berdesis dengan nada suara sedikit terkejut sambil bangkit berdiri. Keempat tamu itupun tanpa sadar telah ikut berdiri.

Namun tampak keempat tamu itu mengerutkan kening mereka dalam-dalam sambil memandang ke arah Ki Surapada yang masih berdiri di depan pintu pringgitan. Nama Ki Surapada memang belum pernah mereka dengar sebelumnya. Mereka hanya mengenal satu nama Ki Dipasura di perguruan Sari Pati sesuai dengan petunjuk  guru mereka.

Agaknya Ki Surapada dapat membaca keheranan di wajah para tamunya. Maka katanya kemudian sambil berjalan mendekat, “Perkenalkan Ki Sanak semua, aku Ki Surapada, pemimpin perguruan Sari Pati yang baru sepeninggal Ayahanda Dipasura beberapa tahun yang lalu.”


“O,” serentak keempat tamu itu segera membungkukkan badan mereka sambil mengangguk dalam-dalam. Berkata Putut Gagar Mayang kemudian mewakili kawan-kawannya, “Maafkan kami Ki Surapada, jika kami belum mengenal pemimpin baru padepokan Sari Pati ini. Sejauh pengetahuan kami, perguruan Sari Pati  masih dibawah kepemimpinan Ki Dipasura.”

Selasa, 27 Juni 2017

Lanjutan JJYT 01

Kuda-kuda itu memang tidak dipacu dengan kencang, namun hanya berderap dalam irama yang ajeg. Sejenak kemudian kuda-kuda itu pun telah berhenti tepat di depan regol Padepokan.

Dengan tangkasnya keempat penunggang kuda itu pun segera meloncat turun.

“Selamat siang, Ki Sanak,” berkata salah satu penunggang kuda itu sambil menganggukkan kepalanya, “Kami berempat datang dari perguruan Blarak Sineret di kaki bukit Sindara.”

Para cantrik yang berada di regol itu sejenak saling berpandangan. Rasa-rasanya nama perguruan Blarak Sineret itu masih asing di telinga mereka.

Widarba yang merasa dirinya sebagai cantrik tertua di antara mereka segera maju selangkah. Katanya kemudian, “Maaf Ki Sanak. Aku memang tidak sedang bertugas jaga di padepokan ini, namun aku adalah Widarba, cantrik tertua di padepokan ini.”

“O,” sahut penunggang kuda itu, “Maafkan kami Ki Widarba. Namaku Putut Gagar Mayang dan ketiga orang ini adalah adik-adik seperguruanku. Kedatangan kami adalah untuk menghadap pemimpin perguruan ini, Ki Dipasura atau yang lebih dikenal dengan sebutan Raden Lembu Gandang, Ksatria bersenjata canggah bermata lengkung.”

Berdesir dada Widarba. Ki Dipasura sudah agak lama meninggal dunia. Memang keberadaan perguruan Sari pati yang terpencil dan jauh dari keramaian itu yang membuat perguruan Sari Pati hampir tidak dikenal. Hanya perguruan-perguruan seangkatan saja yang masih mengenalnya. Itu pun sebatas berita terakhir yang mereka dengar saja. Semenjak kerajaan Majapahit runtuh, perguruan Sari Pati memang telah menarik diri dan hidup dalam keterasingan.

Wregu yang berdiri di belakang Widarba segera menggamitnya sambil berdesis perlahan, “Kakang, bagaimana mungkin mereka bisa mengenal Ki Dipasura? Sedangkan nama perguruan mereka rasa-rasanya masih asing di telinga kita.”

Widarba menarik nafas dalam-dalam sambil berpaling sekilas ke belakang. Namun akhirnya Widarba pun berkata, “Ki sanak semua, silahkan masuk. Kita dapat berbincang-bincang di pendapa agar lebih leluasa dan dapat saling mengenal lebih jauh terhadap perguruan kita masing-masing.”

Selesai berkata demikian  Widarba segera memberi isyarat kepada beberapa cantrik untuk menerima kendali kuda tamu-tamu itu.

Agaknya Putut Gagar Mayang tidak sempat berpikir terlampau jauh. Segera saja diserahkan kendali kudanya kepada salah seorang cantrik Sari Pati yang menghampirinya. Demikian juga ketiga adik seperguruannya segera mengikuti apa yang telah diperbuat oleh Putut Gagar Mayang.


“Marilah,” berkata Widarba kemudian sambil mempersilahkan keempat tamunya untuk berjalan memasuki regol.

Sabtu, 17 Juni 2017

woro-woro STSD jilid 05

Para Can Men yang terhormat

1. Terlebih dahulu mbah man mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi para CanMen yang menjalankannya.
2. Mohon maaf karena kesibukan mbah man yang sangat padat sehingga penyelesaian STSD jilid 05 menjadi tertunda.
3. Jika tidak ada aral melintang, Insya Alloh besuk menjelang Matahari tergelincir ke barat, STSD jilid 05 akan diwedar
4. Silahkan para CanMen yang berkenan,  daftar di alamat email s_sudjatmiko@yahoo.com.au
5. Daftar di gandhok ini juga dipersilahkan.
6. Jika sudah daftar akan tetapi dalam tempo 3 X 24 jam wedaran belum diterima, mohon sekali lagi mengirim email ke alamat tersebut no. 4
7. Demikian terima kasih atas perhatiannya.

matur suwun

Padepokan Sekar Keluwih

mbah man

Jumat, 09 Juni 2017

STSD jilid 05

Para Cantrik Mentrik YTH,
Sehubungan dengan banyaknya CanMen yang menanyakan terbitnya STSD jilid 05, dengan ini mbah man memberitahukan dengan segala hormat, bahwa STSD jilid 05 terlambat terbit dikarenakan sesuatu hal.
Direncanakan STSD jilid 05 akan terbit sebelum lebaran sebagai hadiah THR untuk para CanMen.
Semoga woro2 ini menjawab pertanyaan para CanMen.
Sebelumnya mbah man mohon maaf atas keterlambatan ini
matur suwun atas perhatiannya,

09 Juni 2017
Padepokan Sekar Keluwih, Sidoarjo
mbah man