Para CanMen Yth,
Alhamdulillah setelah di install ulang, laptop bisa digunakan lagi namun dengan resiko samua data hilang.
Dengan ini mbah man mohon maaf yang sebesar-besarnya jika wedaran JJYT dan STSD 07 jadi mundur dan mundur terus.
Untuk JJYT akan segera diwedar rencana minggu depan, sedangkan STSD 07 menurut beberapa masukan dari CanMen, lebih baik di wedar di Taman Bacaan dan GGST seperti dulu lagi setiap hari, agar para CanMen bergairah mengunjungi gandhok.
Silahkan menyatakan pendapatnya, setuju atau tidak setuju.
matur suwun
padepokan Sekar Keluwih
Sidoarjo
mbah man
Kamis, 24 Agustus 2017
Sabtu, 05 Agustus 2017
STSD 06
@ Cantrik Mentrik Yth,
bagi yang belum dapat kiriman STSD 06, silahkan daftar di sini
matur suwun
mbah man
bagi yang belum dapat kiriman STSD 06, silahkan daftar di sini
matur suwun
mbah man
Senin, 31 Juli 2017
woro2 STSD jilid 06
@ cantrik mentrik ingkang dahat kinurmatan
sehubungan dengan padatnya kegiatan mbah man, penerbitan STSD jilid 06 agak tertunda.
diusahakan minggu ini selesai, mohon dimaafkan
matur suwun
salam,
mbah man
sehubungan dengan padatnya kegiatan mbah man, penerbitan STSD jilid 06 agak tertunda.
diusahakan minggu ini selesai, mohon dimaafkan
matur suwun
salam,
mbah man
Jumat, 07 Juli 2017
Lanjutan JJYT 01
Sejenak kemudian keempat
tamu-tamu itupun segera melintasi halaman padepokan yang luas untuk kemudian
menaiki pendapa ditemani oleh Widarba dan Wregu. Sementara kuda-kuda mereka
telah ditambatkan di sebelah kanan pendapa.
“Silahkan,” berkata Widarba
kemudian sambil mempersilahkan tamu-tamunya mengambil tempat duduk di atas
tikar pandan yang putih bersih. Setelah tamu-tamunya duduk, barulah Widarba dan
Wregu mengikuti duduk menghadap ke arah tamu-tamunya.
Sebagaimana suba sita yang
berlaku di kehidupan bebrayan, Widarba pun terlebih dahulu menanyakan
keselamatan tamu-tamunya selama dalam perjalanan sebelum memulai pembicaraan.
“Nah,” berkata Widarba
selanjutnya, “Jika Ki Putut Gagar Mayang tidak berkeberatan, kami ingin
mengetahui serba sedikit tentang perguruan Blarak Sineret di kaki gunung Sindara
itu.”
Tampak Putut Gagar Mayang
menarik nafas panjang sambil berpaling ke arah adik-adik seperguruannya. Namun
agaknya mereka telah menyerahkan persoalan itu sepenuhnya kepada kakak
seperguruan mereka.
“Baiklah Ki Widarba,” jawab
Putut Gagar Mayang kemudian sambil menggeser duduknya setapak ke depan,
“Perguruan Blarak Sineret memang terhitung perguruan yang masih baru, sehingga
wajar jika kalian belum pernah mendengarnya.”
Hampir bersamaan Widarba dan
Wregu mengangguk-angguk. Bertanya Widarba kemudian, “Siapakah yang menjadi pemimpin
perguruan Blarak Sineret sekarang ini?”
“Kiai Sarpa Sri,” jawab
Putut Gagar Mayang dengan serta merta.
Jika ada guntur meledak di
langit di siang hari itu, tentu Widarba tidak akan sekaget mendengar jawaban
Putut Gagar Mayang.
“Kiai Sarpa Sri?” seru Widarba
dengan jantung yang berdebaran. Sedangkan Wregu yang duduk di sebelahnya hanya
dapat mengerutkan keningnya dalam-dalam.
Bagi Wregu nama Kiai Sarpa
Sri memang belum didengarnya sehingga tidak berpengaruh sama sekali. Namun sebaliknya
bagi Widarba, nama Kiai Sarpa Sri sudah
tidak asing lagi di telinganya. Nama yang selalu menggetarkan dadanya jika
setiap kali dia teringat akan nama itu.
“Apakah Ki Widarba mengenal
nama itu?” bertanya Putut Gagar Mayang kemudian begitu melihat raut wajah Widarba
berubah tegang.
Namun sebelum Widarba
menjawab, terdengar pintu pringgitan berderit perlahan. Serentak orang-orang
yang sedang berada di pendapa itupun segera berpaling. Tampak seseorang yang sudah sangat dikenal oleh
Widarba dan Wregu muncul dari balik pintu.
“Ki Surapada,” tanpa sadar
Widarba dan Wregu berdesis dengan nada suara sedikit terkejut sambil bangkit
berdiri. Keempat tamu itupun tanpa sadar telah ikut berdiri.
Namun tampak keempat tamu
itu mengerutkan kening mereka dalam-dalam sambil memandang ke arah Ki Surapada
yang masih berdiri di depan pintu pringgitan. Nama Ki Surapada memang belum
pernah mereka dengar sebelumnya. Mereka hanya mengenal satu nama Ki Dipasura di
perguruan Sari Pati sesuai dengan petunjuk guru mereka.
Agaknya Ki Surapada dapat
membaca keheranan di wajah para tamunya. Maka katanya kemudian sambil berjalan
mendekat, “Perkenalkan Ki Sanak semua, aku Ki Surapada, pemimpin perguruan Sari Pati yang baru
sepeninggal Ayahanda Dipasura beberapa tahun yang lalu.”
“O,” serentak keempat tamu
itu segera membungkukkan badan mereka sambil mengangguk dalam-dalam. Berkata
Putut Gagar Mayang kemudian mewakili kawan-kawannya, “Maafkan kami Ki Surapada,
jika kami belum mengenal pemimpin baru padepokan Sari Pati ini. Sejauh
pengetahuan kami, perguruan Sari Pati
masih dibawah kepemimpinan Ki Dipasura.”
Selasa, 27 Juni 2017
Lanjutan JJYT 01
Kuda-kuda itu memang tidak
dipacu dengan kencang, namun hanya berderap dalam irama yang ajeg. Sejenak
kemudian kuda-kuda itu pun telah berhenti tepat di depan regol Padepokan.
Dengan tangkasnya keempat penunggang
kuda itu pun segera meloncat turun.
“Selamat siang, Ki Sanak,”
berkata salah satu penunggang kuda itu sambil menganggukkan kepalanya, “Kami
berempat datang dari perguruan Blarak Sineret di kaki bukit Sindara.”
Para cantrik yang berada di
regol itu sejenak saling berpandangan. Rasa-rasanya nama perguruan Blarak
Sineret itu masih asing di telinga mereka.
Widarba yang merasa dirinya
sebagai cantrik tertua di antara mereka segera maju selangkah. Katanya
kemudian, “Maaf Ki Sanak. Aku memang tidak sedang bertugas jaga di padepokan
ini, namun aku adalah Widarba, cantrik tertua di padepokan ini.”
“O,” sahut penunggang kuda
itu, “Maafkan kami Ki Widarba. Namaku Putut Gagar Mayang dan ketiga orang ini
adalah adik-adik seperguruanku. Kedatangan kami adalah untuk menghadap pemimpin
perguruan ini, Ki Dipasura atau yang lebih dikenal dengan sebutan Raden Lembu
Gandang, Ksatria bersenjata canggah bermata lengkung.”
Berdesir dada Widarba. Ki
Dipasura sudah agak lama meninggal dunia. Memang keberadaan perguruan Sari pati
yang terpencil dan jauh dari keramaian itu yang membuat perguruan Sari Pati
hampir tidak dikenal. Hanya perguruan-perguruan seangkatan saja yang masih
mengenalnya. Itu pun sebatas berita terakhir yang mereka dengar saja. Semenjak
kerajaan Majapahit runtuh, perguruan Sari Pati memang telah menarik diri dan
hidup dalam keterasingan.
Wregu yang berdiri di
belakang Widarba segera menggamitnya sambil berdesis perlahan, “Kakang,
bagaimana mungkin mereka bisa mengenal Ki Dipasura? Sedangkan nama perguruan
mereka rasa-rasanya masih asing di telinga kita.”
Widarba menarik nafas
dalam-dalam sambil berpaling sekilas ke belakang. Namun akhirnya Widarba pun berkata, “Ki sanak semua, silahkan
masuk. Kita dapat berbincang-bincang di pendapa agar lebih leluasa dan dapat
saling mengenal lebih jauh terhadap perguruan kita masing-masing.”
Selesai berkata demikian Widarba segera memberi isyarat kepada beberapa
cantrik untuk menerima kendali kuda tamu-tamu itu.
Agaknya Putut Gagar Mayang
tidak sempat berpikir terlampau jauh. Segera saja diserahkan kendali kudanya
kepada salah seorang cantrik Sari Pati yang menghampirinya. Demikian juga
ketiga adik seperguruannya segera mengikuti apa yang telah diperbuat oleh Putut
Gagar Mayang.
“Marilah,” berkata Widarba
kemudian sambil mempersilahkan keempat tamunya untuk berjalan memasuki regol.
Sabtu, 17 Juni 2017
woro-woro STSD jilid 05
Para Can Men yang terhormat
1. Terlebih dahulu mbah man mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi para CanMen yang menjalankannya.
2. Mohon maaf karena kesibukan mbah man yang sangat padat sehingga penyelesaian STSD jilid 05 menjadi tertunda.
3. Jika tidak ada aral melintang, Insya Alloh besuk menjelang Matahari tergelincir ke barat, STSD jilid 05 akan diwedar
4. Silahkan para CanMen yang berkenan, daftar di alamat email s_sudjatmiko@yahoo.com.au
5. Daftar di gandhok ini juga dipersilahkan.
6. Jika sudah daftar akan tetapi dalam tempo 3 X 24 jam wedaran belum diterima, mohon sekali lagi mengirim email ke alamat tersebut no. 4
7. Demikian terima kasih atas perhatiannya.
matur suwun
Padepokan Sekar Keluwih
mbah man
1. Terlebih dahulu mbah man mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi para CanMen yang menjalankannya.
2. Mohon maaf karena kesibukan mbah man yang sangat padat sehingga penyelesaian STSD jilid 05 menjadi tertunda.
3. Jika tidak ada aral melintang, Insya Alloh besuk menjelang Matahari tergelincir ke barat, STSD jilid 05 akan diwedar
4. Silahkan para CanMen yang berkenan, daftar di alamat email s_sudjatmiko@yahoo.com.au
5. Daftar di gandhok ini juga dipersilahkan.
6. Jika sudah daftar akan tetapi dalam tempo 3 X 24 jam wedaran belum diterima, mohon sekali lagi mengirim email ke alamat tersebut no. 4
7. Demikian terima kasih atas perhatiannya.
matur suwun
Padepokan Sekar Keluwih
mbah man
Jumat, 09 Juni 2017
STSD jilid 05
Para Cantrik Mentrik YTH,
Sehubungan dengan banyaknya CanMen yang menanyakan terbitnya STSD jilid 05, dengan ini mbah man memberitahukan dengan segala hormat, bahwa STSD jilid 05 terlambat terbit dikarenakan sesuatu hal.
Direncanakan STSD jilid 05 akan terbit sebelum lebaran sebagai hadiah THR untuk para CanMen.
Semoga woro2 ini menjawab pertanyaan para CanMen.
Sebelumnya mbah man mohon maaf atas keterlambatan ini
matur suwun atas perhatiannya,
09 Juni 2017
Padepokan Sekar Keluwih, Sidoarjo
mbah man
Sehubungan dengan banyaknya CanMen yang menanyakan terbitnya STSD jilid 05, dengan ini mbah man memberitahukan dengan segala hormat, bahwa STSD jilid 05 terlambat terbit dikarenakan sesuatu hal.
Direncanakan STSD jilid 05 akan terbit sebelum lebaran sebagai hadiah THR untuk para CanMen.
Semoga woro2 ini menjawab pertanyaan para CanMen.
Sebelumnya mbah man mohon maaf atas keterlambatan ini
matur suwun atas perhatiannya,
09 Juni 2017
Padepokan Sekar Keluwih, Sidoarjo
mbah man
Langganan:
Postingan
(
Atom
)