Kamis, 24 November 2016

TADBM 416_2

Demikianlah suara derap kaki-kaki kuda di atas jalan berbatu-batu itu telah mengejutkan orang-orang yang sedang bertempur dengan sengitnya di padang rumput lemah cengkar.

Ketika pendengaran Ki Swandaru yang tajam melebihi orang-orang kebanyakan itu lamat-lamat mendengar detingan senjata yang beradu dan sorak sorei yang riuh rendah, sadarlah  Ki Swandaru bahwa telah terjadi pertempuran di lemah Cengkar.

“Mungkin sepasukan prajurit Mataram sedang menghadapi sekelompok orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Atau mungkin  sekelompok orang-orang yang tidak senang melihat Mataram berkembang dan menjadi besar,” berkata Ki Swandaru dalam hati sambil memacu kudanya mendekati lemah Cengkar.

Dalam pada itu Pangeran Ranapati yang telah bersiap untuk membuat perhitungan dengan Pangeran Jayaraga telah dikejutkan oleh suara ledakan cambuk yang menggelegar memecah udara malam.

“Gila!” geram Pangeran Ranapati.

Pada awalnya Pangeran Ranapati menyangka Ki Rangga Agung Sedayu lah yang telah meledakkan cambuk itu. Namun ketika dia  berpaling ke arah medan pertempuran antara Ki Rangga Agung Sedayu melawan Gurunya, terlihat mereka berdua sedang bertempur dengan sengitnya tanpa menggunakan senjata sama sekali.

Tampak Ki Rangga sedang mengerahkan kemampuan ilmunya yang dapat menghilangkan bobot tubuhnya. Setiap kali serangan beruntun datang membadai dari lawannya, dengan ilmu menghilangkan bobot tubuhnya yang hampir sempurna, Ki Rangga dapat melenting tinggi kemudian ketika masih di udara pun Ki Rangga mampu melenting lagi ke arah yang tak terduga.

Namun lawan Ki Rangga kali ini adalah Ki Ageng Selagilang yang lebih dikenal dengan nama  Ki Singawana Sepuh, guru pangeran Ranapati. Dengan ilmunya yang dapat mengelabuhi pengamatan lawan atas keberadaan dirinya, dengan tanpa memberi ruang sedikitpun kepada Ki Rangga, serangan Ki Singawana Sepuh datang bertubi-tubi bagaikan ombak di pantai yang tak henti-hentinya menghempas karang.

Untuk sementara memang Ki Rangga hanya dapat menghindar dan menghindar terus. Lawannya tidak pernah memberi ruang gerak yang cukup untuk balas menyerang. Setiap kali Ki Rangga dengan sapta panggraitanya mampu mengenali keberadaan lawannya yang hilang dari pandangan mata, di saat yang bersamaan itu lah lawannya kembali muncul di tempat yang berbeda sambil melancarkan serangan yang dahsyat.

“Agul-agulnya Mataram itu lambat laun pasti akan kehabisan nafas,” berkata Pangeran Ranapati dalam hati sambil tetap mengawasi jalannya pertempuran mereka berdua, “Guru hanya tinggal menunggu waktu saja, tapi itu pasti akan memakan waktu yang sangat lama. Murid utama orang bercambuk itu pasti memiliki ketahanan  tubuh yang luar biasa. Seharusnya Guru segera saja melepaskan ilmunya yang lain yang lebih dahsyat agar pertempuran segera berakhir. Aku yakin kemampuan ilmu Guru masih berada di atas Ki Rangga.”

Ketika Pangeran Ranapati sedang menilai pertempuran itu dengan sungguh-sungguh, tiba-tiba saja kembali terdengar ledakan cambuk menggetarkan udara di atas lemah cengkar, disusul dengan ledakan-ledakan cambuk yang lain berturut-turut. Namun ledakan cambuk berikutnya tidaklah sedahsyat ledakan cambuk sebelumnya.

“Siapakah yang sedang bermain-main dengan cambuk yang memuakkan ini?” geram Pangeran Ranapati. Sementara Pangeran Jayaraga justru telah menarik nafas dalam-dalam untuk mengendorkan urat syarafnya yang selama ini terasa sangat tegang.

“Kalau aku tidak salah, tentu saudara muda seperguruan Ki Rangga Agung Sedayu yang datang bersama murid-murid padepokan orang bercambuk yang lain,” desis Pangeran Jayaraga, “Semoga kesulitan yang dialami oleh pasukan Mataram segera teratasi.”

Demikian lah ketika sekali lagi terdengar ledakkan cambuk menggelegar di udara, Pangeran Ranapati pun sudah tidak dapat menahan hatinya lagi.

“Adimas Pangeran,” berkata Pangeran yang keras hati itu kemudian, “Masih ada kesempatan untuk berpikir sekali lagi. Aku akan segera kembali. Tidak perlu banyak waktu bagiku untuk membungkam suara-suara cambuk yang memuakkan itu  selama-lamanya.”


Selesai berkata demikian, tanpa menunggu tanggapan Pangeran Jayaraga, putra laki-laki satu-satu Rara Ambarasari itu dengan lengkah bergegas segera menuju ke tempat suara cambuk yang semakin sering terdengar meledak-ledak.

KKBP 01 bag 3

KKBP 01
bag 03

Sejenak tidak terdengar jawaban dari balik pintu. Namun kemudian terdengar orang yang berada di balik pintu itu menarik nafas dalam-dalam sambil berdesis perlahan, “Aku Mahesa Pawagal ingin bertemu Ki Ajar Wringin Anom.”

Kini Cantrik itulah yang membeku. Dia belum pernah mengenal orang yang bernama Mahesa Pawagal sehingga untuk beberapa saat Cantrik itu menjadi ragu-ragu untuk membuka pintu regol.

“Bukalah!” tiba tiba terdengar suara perlahan di belakang Cantrik itu sehingga membuatnya  terlonjak kaget.

Ketika Cantrik itu kemudian berpaling ke belakang, tampak seorang pemuda yang berbadan kekar dan berwajah cerah sedang memandang ke arahnya sambil tersenyum.

“Kakang Putut Brajamusti,” sambil menganggukkan kepalanya Cantrik itu menyapa, “Apakah Kakang mengenal orang yang berada di balik pintu regol itu?”

Putut Brajamusti mengangguk, “Aku mengenal Paman Mahesa Pawagal  sebagaimana aku mengenal diriku sendiri.”

Laki laki paro baya di depan pintu regol yang masih tertutup itu menjadi berdebar debar. Dengan jelas dia dapat mendengarkan percakapan itu sehingga tumbuh suatu keharuan yang luar biasa begitu mendengar nama seseorang di sebut, Putut Brajamusti.

Lima tahun sudah dia menitipkan Brajamusti di Padepokan Wringin Anom setelah sebelumnya bersembunyi di beberapa tempat secara berpindah-pindah untuk menghindari kejaran prajurit Majapahit kaki tangan Dyah Halujuda atau Mahapati yang masih belum puas mencari keluarga Mpu Sora untuk di binasakan.

Sepuluh tahun sejak peristiwa berdarah di halaman istana Majapahit, Brajamusti ternyata telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang tangguh tanggon.

“Segala puji bagi Yang Maha Agung yang telah melindungi hambaNya dari segala mara bahaya,” desis laki laki paro baya yang ternyata bernama Mahesa Pawagal sambil mengusap sudut matanya yang tiba-tiba saja terasa basah.

Ketika Cantrik itu kemudian membuka selarak, di depan Mahesa Pawagal telah berdiri dengan gagahnya seorang pemuda yang sedang tumbuh dan berkembang menyongsong masa depannya dengan penuh gairah, Putut Brajamusti.

“Paman,” sapa pemuda itu dengan cepat sambil melangkah ke depan dan menyambut pelukan Mahesa Pawagal.

“Benar, Brajamusti,” terdengar suara Mahesa Pawagal sendat, “Pamanmu yang datang berkunjung.”

Beberapa Cantrik yang sebelumnya berada di pendapa segera menyambut kedatangan tamu yang kelihatannya sudah sangat akrab dengan Putut Brajamusti. Satu persatu mereka menyalami Mahesa Pawagal yang segera naik ke pendapa diikuti oleh Putut Barajamusti. Sedangkan seorang Cantrik segera masuk ke dalam untuk memberitahu Ki Ajar akan kedatangan Mahesa Pawagal.

Sementara itu, begitu Mahesa Pawagal telah memasuki padepokan, pintu regol padepokan pun segera ditutup rapat dan diselarak dari dalam. Tidak seorang pun yang menyadari, bahkan Mahesa Pawagal pun tidak, bahwa di ujung kelokan jalan sebelum memasuki padepokan Wringin Anom, seseorang yang berpakaian serba hitam dengan ikat kepala menutupi sebagian wajahnya sedang berdiri bagaikan melekat pada sebatang pohon yang tumbuh di pinggir jalan.

Untuk beberapa saat orang yang berpakaian serba hitam itu masih mengamat-amati pintu regol padepokan Wringin Anom yang telah tertutup rapat. Akhirnya sambil menarik nafas dalam-dalam dan mengangguk-anggukkan kepalanya, orang itu pun kemudian segera menghilang dalam kegelapan malam.

Sementara itu Ki Ajar ternyata telah menyambut tamunya di pringitan karena udara malam yang cukup dingin terasa menusuk-nusuk kulit dan meremas tulang.

“Akhir-akhir ini aku tidak begitu kuat untuk duduk-duduk di pendapa di malam yang dingin seperti ini,” berkata Ki Ajar sambil mempersilahkan tamunya untuk duduk di pringitan.

“Ah,” Mahesa Pawagal derdesah sambil tertawa pendek, “Apakah angin malam yang dingin ini tidak bisa dilawan dengan aji Lebur Seketi?”

“O, tentu tidak,” sahut Ki Ajar cepat, “Betapapun tinggi ilmu seseorang, namun dia tidak akan mampu melawan waktu, dan kelihatannya aku sudah mulai merasakan itu.”

Mahesa Pawagal menarik nafas dalam-dalam. Tanpa disadarinya pandangan matanya menelusuri sekujur tubuh Ki Ajar. Lima tahun yang lalu Ki Ajar masih terlihat sehat dan tegap, walaupun usianya sudah cukup tua. Namun kini setelah lima tahun tidak bertemu, betapa Ki Ajar terlihat sebagaimana orang tua kebanyakan, renta dan sedikit bongkok.

“Sudahlah,” berkata Ki Ajar kemudian sambil duduk di hadapan Mahesa Pawagal, sedangkan Putut Brajamusti mengambil tempat di sisi kiri Ki Ajar.


“Sudah sewajarnya yang tua-tua ini mundur dan sebagai gantinya yang muda- muda yang akan tampil menggantikan kiprah kita di atas jagad raya ini,” berkata Ki Ajar selanjutnya.

Rabu, 23 November 2016

TADBM 416_1

TADBM 416
Bag 01

“Selamat bertemu kembali Kangmas Pangeran,” sapa Pangeran Jayaraga dengan suara yang berat dan dalam, “Apakah ada keperluan yang sangat mendesak sehingga Kangmas Pangeran memerlukan waktu untuk menjumpai aku di tengah padang rumput Lemah Cengkar ini?”

Pangeran Ranapati diam-diam mengumpat dalam hati. Namun jawabnya kemudian, “Adimas Adipati. Aku sengaja mencegat rombongan ini untuk membebaskan Adimas dari tawanan orang-orang Mataram yang tidak tahu diri.”

“Kangmas Pangeran,” jawab Pangeran Jayaraga setelah terdiam sejenak, “Saat ini aku sudah bukan seorang Adipati yang berkedudukan di Panaraga lagi. Aku hanyalah seorang tawanan yang akan dibawa menghadap penguasa tertinggi Mataram untuk menerima hukuman. Jadi aku mohon jangan panggil lagi aku dengan sebutan Adipati,” Pangeran Jayaraga berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Perlu Kangmas ketahui, aku sudah tidak punya niat sebiji sawi pun untuk meraih kamukten dunia. Apa yang akan aku jalani di hari-hari mendatang hanyalah pasrah terhadap kekuasaan  Yang Maha Agung yang menguasai jagad se isinya ini.”

“Omong kosong!” geram Pangeran Ranapati, “Aku tidak yakin niat itu keluar dari lubuk hatimu yang paling dalam. Aku tahu semua itu hanya keinginan hatimu yang sesaat. Jika pada suatu saat kesempatan itu datang, engkau pasti akan mengambil kesempatan itu,” Pangeran Ranapati berhenti sejenak. Nafasnya menjadi sedikit memburu karena kemarahan yang mulai mengoyak dadanya. Lanjutnya kemudian, “Nah, Adimas Pangeran, engkau tidak usah menunggu atau mencari kesempatan itu. Sekarang aku datang untuk menawarkan kesempatan bagimu untuk meraih kamukten yang sempat terlepas dari tanganmu. Apakah Adimas mau mempertimbangkan tawaranku ini?”

Sungguh diluar dugaan Pangeran Ranapati, pangeran Jayaraga ternyata telah menggeleng-gelengkan kepalanya, bukan hanya sekali bahkan sampai berkali-kali.

‘Tidak Kangmas. Aku ucapkan terima kasih atas tawaran dari Kangmas Pangeran. Aku sudah membulatkan tekadku untuk mengabdikan sisa umurku ini di jalan yang diridhoi olehNYA”

Sekali lagi Pangeran yang keras hati itu menggeram, bahkan terdengar lebih keras. Katanya kemudian sambil menunjuk ke hidung Pangeran Jayaraga, “Adimas! Jika memang itu sudah menjadi keputusanmu, aku tidak akan memaksa. Tapi ketahuilah! Aku tidak pernah mengemis belas kasihan pada seseorang, demikian juga sebaliknya, aku tidak pernah menaruh belas kasihan kepada siapapun. Jika Adimas telah berkeputusan menolak tawaranku, aku pun demikian. Tidak akan pernah membiarkan orang yang berani menolak tawaranku, hidup  lebih lama lagi sampai Matahari terbit di keesokan harinya.”

Tersirap darah Pangeran Jayaraga sampai ke ubun-ubun. Agaknya orang yang pernah menjadi Senapatinya Kadipaten Panaraga dan mengaku masih trah Panembahan Senapati ini telah terbiasa memaksakan kehendaknya, kepada siapapun tanpa terkecuali.

Namun sebelum Pangeran Jayaraga menjawab, tiba-tiba orang-orang yang sedang bertempur di padang rumput Lemah Cengkar itu telah dikejutkan oleh suara derap beberapa ekor kuda. Suara itu memang masih cukup jauh, namun gemanya telah memantul di lereng-lereng bukit dan batu-batu padas di tebing-tebing sungai.

Beberapa orang mencoba mempertajam pendengaran mereka tak terkecuali kedua Pangeran itu. Dan agaknya tanpa membutuhkan waktu yang lama, keduanya segera dapat mengetahui dari arah mana datangnya suara derap kuda-kuda itu.

“Bukan dari arah Jati Anom,” berkata Pangeran Ranapati dalam hati, “Tentu bukan prajurit-prajurit Jati Anom. Arahnya dari selatan. Mungkin hanya rombongan para pedagang yang akan lewat saja.”

Namun Pangeran Jayaraga justru mempunyai dugaan yang berbeda.

“Menilik arahnya yang dari selatan Jati Anom, kemungkinan mereka adalah orang-orang dari perguruan bercambuk. Di sebelah selatan Jati Anom kalau aku tidak salah ada sebuah perguruan kecil, namun sangat terkenal karena salah satu pewarisnya telah menjadi agul-agulnya Mataram, dan sekarang sedang berada di sini, Ki Rangga Agung Sedayu.”

Dugaan Pangeran Jayaraga ternyata sangat tepat. Ki Widura yang telah dibangunkan oleh Cantrik yang sedang bertugas jaga, segera membangunkan Ki Swandaru yang kebetulan sedang menjalani perawatan di padepokan Jati Anom.

“Aku ikut Paman Widura,” berkata Ki Swandaru kemudian sambil membenahi pakaiannya. Tak lupa seutas cambuk yang menjadi senjata andalannya segera dililitkan ke lambung.

“Ngger, kita belum tahu apa yang sedang terjadi dengan kuda-kuda itu,” Ki Widura berhenti sejenak. Kemudian,  “Menilik ciri-ciri peralatan yang dipakai, kuda-kuda itu memang kemungkinannya berasal dari para prajurit Mataram, namun masih harus dibuktikan. Sebaiknya angger di padepokan saja. Bukankah angger Swandaru masih belum pulih benar?”

“Aku sudah sehat Paman,” jawab Ki Swandaru mantap, “Rasa-rasanya aku sudah tidak betah lagi setiap hari hanya mondar-mandir di halaman padepokan ini. Marilah paman. Jangan mengkawatirkan keadaanku. Aku sudah dapat menjaga diriku sendiri.”

Ki Widura hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Ada sedikit penyesalan di dalam hatinya, mengapa dia tadi membangunkan Ki Swandaru? Walaupun tujuan sebenarnya hanyalah untuk memberitahukan kepergiannya kepada anak Demang Sangkal Putung itu.

“Baiklah," akhirnya Ki Widura mengalah, “Kita bawa sekitar sepuluh cantrik yang benar-benar sudah dapat diandalkan.”

Demikianlah, dua belas ekor kuda segera berderap di malam yang dingin menyusuri jalan-jalan padukuhan mengikuti jejak-jejak kuda di sepanjang jalan.

Ketika rombongan itu kemudian telah mencapai jalan simpang, dengan jelas mereka melihat jejak-jejak  kuda itu menjadi  semakin banyak.

“Jejak-jejak kuda ini sebagian besar menuju Kademangan Jati Anom,” berkata Cantrik yang bermata sipit yang telah turun dari kudanya, “Namun yang pasti, semua jejak ini berasal dari arah timur.”

Ki Swandaru mengerutkan keningnya. Tiba-tiba saja dia menghentak kudanya sehingga kuda itu terkejut dan melonjak berlari menuju ke timur.

“Kita menuju lemah Cengkar!  Sesuatu mungkin sedang terjadi di lemah Cengkar!” teriak Ki Swandaru sambil memacu kudanya lebih kencang lagi.

Segera saja Ki Widura dan para Cantrik memacu kuda-kuda mereka menyusul Ki Swandaru yang telah berpacu semakin jauh.


Sinopsis Badai di Bumi Jipang (BDBJ)

Sinopsis Badai Di Bumi Jipang
Oleh: mbah man

Sepeninggal Sultan Trenggana, singgasana Demak menjadi perebutan antara Adipati Pajang yang menjadi menantu Sultan Tranggana dan Adipati Jipang Panolan sebagai keturunan dari Pangeran Sekar Seda Lepen. Kedua-duanya mengaku berhak atas tahta.

Keberadaan Sunan Prawata yang diharapkan dapat menggantikan kedudukan Ayahandanya ternyata jauh dari harapan. Sunan Prawata yang semasa mudanya bernama Raden Timur itu lebih suka mendalami ilmu agama dan menyepi di bukit Prawata dari pada mengurusi pemerintahan.

Perebutan kekuasan ini ternyata telah memancing perguruan-perguruan yang tersebar di seluruh tlatah Demak untuk  turun gunung dan saling mendukung calon Raja masing-masing. Tentu saja semua dukungan itu tidak semuanya berlandaskan niat tulus ikhlas untuk mengabdikan yang terbaik bagi kejayaan bangsa dan negara. Beberapa perguruan justru telah mengail di air keruh. Memanfaatkan keadaan negara yang carut marut untuk menggapai cita-cita golongan mereka sendiri.

Tersebutlah Sokawana, murid termuda perguruan Sekar Keluwih yang dikirim oleh Ki Ajar Sokaniti sebagai sahabat lama Sunan Prawata untuk ikut menjaga keselamatan dan ketentraman bukit Prawata dari tangan-tangan jahat dan tidak bertanggung jawab.

Walaupun dengan berat hati , Sokawana harus meninggalkan kekasih pujaan hatinya, Niken Mita Ayu Puspaningratri, menunaikan tugas entah sampai kapan berakhir. Sementara murid tertua perguruan Sekar Keluwih, Sura Ireng, selalu membayang-bayangi putri satu-satunya Ki Ajar Sokaniti itu untuk dapat menaklukkan hati gadis bunga padepokan itu dengan cara apapun juga.

Padepokan Sekar Keluwih


Mbah man

KKBP 01

KKBP 01
bag 2

Tak terasa langkah laki laki paro baya itu telah semakin dekat dengan regol Kabuyutan Wringin Anom. Dari jarak yang sudah semakin dekat itu, laki-laki paro baya itu telah dapat melihat sinar lampu dlupak yang di pasang di kiri kanan regol Kabuyutan Wringin Anom.

Sejenak laki-laki paro baya itu menahan langkahnya. Ada sebersit keraguan yang menyelinap di dalam hatinya ketika regol Kabuyutan Wringin Anom tinggal beberapa puluh langkah saja dari hadapannya.

“Apa yang harus aku katakan jika para penjaga regol itu bertanya tentang diriku?” bertanya laki laki paro baya itu dalam hati.

Kabuyutan Wringin Anom memang sebuah Kabuyutan yang cukup aman terletak di sebelah selatan lereng gunung Semeru. Namun demikian, para pengawal Kabuyutan Wringin Anom senantiasa bersiaga. Setiap malam secara bergiliran para pengawal Kabuyutan menjaga gardu-gardu serta pintu-pintu gerbang dibantu oleh anak-anak muda Kabuyutan.

“Sebaiknya aku mengindari para pengawal,” berkata laki laki paro baya itu kemudian, “Walaupun aku harus melewati semak belukar, namun itu lebih baik dari pada harus menjawab pertanyaan para penjaga regol dan para pengawal yang sedang meronda.”

Dengan langkah lebar, laki laki paro baya itu pun kemudian berbelok ke kanan keluar dari jalur semula. Setelah naik ke pematang sawah di kanan jalan, laki laki paro baya itu pun  mulai menyeberangi tanah pesawahan yang kering.

Beberapa saat kemudian ketika kotak kotak sawah yang diseberanginya telah berganti dengan semak belukar, laki laki paro baya itu pun melanjutkan perjalanannya dengan menyusuri jalan setapak yang hanya tampak samar-samar di antara gerumbul dan semak belukar serta rumput ilalang yang tumbuh merapat berjajar-jajar.

Malam baru saja melewati sirep bocah. Laki laki paro baya itu telah mencapai pinggir padukuhan Parang Parang sebelah barat. Dengan mengendap-endap, laki laki paro baya itu mencoba mendekati dinding padukuhan sebelah barat yang cukup tinggi.

“Aku akan melompati dinding ini,” berkata laki laki paro baya itu, “Semoga saja tidak ada peronda yang sedang nganglang melewati tempat ini.”

Sejenak kemudian laki laki paro baya itu pun telah berdiri melekat dinding. Dipusatkan segala nalar budinya dan indra pendengarannya untuk mencoba mendengarkan suara maupun gerak yang ada di seberang dinding. Ketika laki laki paro baya itu sudah yakin dengan pengamatannya, dengan merendahkan kedua lututnya terlebih dahulu, laki laki paro baya itu pun bagaikan terbang telah meloncat dan hinggap menelungkup di atas dinding padukuhan.

Untuk beberapa saat dia masih berdiam diri sambil mencoba untuk mempertajam pendengaran dan penglihatannya. Ketika dia sudah yakin tidak ada seorang pun yang ada di sekitar dinding padukuhan itu, bagaikan seekor tupai, laki laki paro baya itu pun kemudian meloncat turun.

“Padepokan Wringin Anom tinggal selangkah lagi,” desis laki laki itu dalam hati, “Semoga Ki Ajar ada di Padepokan karena hanya Ki Ajar lah yang mengenal diriku di padepokan itu.”

Namun laki laki paro baya itu menjadi ragu-ragu sejenak. Pikirannya melayang pada seraut wajah anak yang masih sangat muda yang dibawanya ke padepokan Wringin Anom lima tahun yang lalu.

“Semoga dia masih ingat kepadaku,” desis laki laki paro baya itu sambil menarik nafas dalam-dalam.

Dengan perlahan akhirnya dilangkahkan kakinya menyusuri jalan padukuhan yang telah sepi. Ketika tanpa disadarinya dia menengadahkan wajah ke langit, tampak betapa bersihnya langit tanpa selembar awan pun. Bintang gemintang mulai tampak bermunculan menghiasi langit yang gelap.

“Musim kering ini agaknya masih akan berlangsung lama,” desis laki laki itu sambil mengamat-amati pohon-pohon sepanjang jalan padukuhan yang tampak kering dan meranggas. Hanya pohon-pohon besar sajalah yang masih tampak hijau daunnya karena mempunyai akar yang menghujam jauh sampai ke dalam bumi sehingga  mampu  menghisap air dari dalam tanah.

Ketika regol padepokan itu samar-samar sudah terlihat dalam keremangan malam, langkah laki laki paro baya itu pun bagaikan di kejar hantu. Dalam beberapa saat kemudian dia telah berdiri di depan regol padepokan yang pintunya tertutup rapat dan diselarak dari dalam.

Sejenak dia ragu-ragu untuk mengetuk pintu. Ketika pandangan matanya mencoba mengenali huruf huruf yang tertulis di atas regol, laki laki itu pun segera memutuskan untuk mengetuk pintu, apapun yang terjadi.

Malam memang belum terlalu dalam. Baru saja lewat sirep bocah, dan agaknya para Cantrik yang sedang duduk-duduk di pendapa telah mendengar ketukan di pintu regol padepokan.

Seorang Cantrik yang masih muda dengan tergesa-gesa segera turun dari pendapa. Sambil berjalan setengah berlari dia menyeberangi halaman padepokan yang luas menuju ke regol depan padepokan Wringin Anom.

“Siapa?” bertanya Cantrik itu sambil memegang selarak pintu, siap untuk membuka pintu regol.

“Aku ingin bertemu dengan Ki Ajar Wringin Anom,” terdengar suara dengan nada berat dan dalam dari balik pintu.


“Tolong sebut nama Ki Sanak,” berkata Cantrik itu kemudian, “Kami tidak menerima tamu orang-orang yang tidak kami kenal.”

Selasa, 22 November 2016

KKBP jilid 01

Ksatria-ksatria Bumi Pajarakan
Oleh: Mbah Man
Jilid 01
 Bag 1

Matahari masih menyisakan sinarnya yang buram di pucuk-pucuk pepohonan.  Langit mulai dilingkupi oleh kegelapan ketika tampak seseorang sedang menyusuri tepian sungai yang membelah sebelah barat Kabuyutan Wringin Anom. Sesekali pandangan matanya menatap langit yang mulai gelap. Suara gemericik air di bawah kakinya terdengar bagaikan kidung indah menjelang tidur. Sementara suara burung burung malam yang mulai berkeliaran keluar dari sarangnya sesekali terdengar jauh di kelokan sungai membuat langkah laki laki paro baya itu semakin cepat.

“Sebentar lagi akan gelap,” desis laki laki paro baya itu sambil mempercepat langkahnya, “Aku harus mencapai padepokan  Wringin Anom  sebelum wayah sirep bocah.”

Padepokan Wringin Anom sebenarnya terletak di padukuhan Parang Parang, sebuah padukuhan kecil yang terletak di sebelah selatan dari Kabuyutan Wringin Anom. Para penduduk di sekitar Padepokan itu lebih senang menyebut nama padepokan itu dengan sebutan padepokan Wringin Anom walaupun sebenarnya terletak di padukuhan Parang Parang, dan agaknya para penghuni padepokan itu pun tidak pernah mempermasalahkannya.
Ketika langkah laki laki paro baya itu mencapai sebuah pohon gayam yang tumbuh di tanggul sungai dekat kelokan, sejenak dia menarik nafas dalam dalam sambil mengedarkan pandangan matanya ke  sekeliling. Setelah yakin dengan pengamatannya bahwa sejauh ini tidak ada seorang pun yang mengikuti perjalanannya, laki laki paro baya itu pun segera menyeberangi sungai yang airnya cukup dangkal hanya setinggi lutut untuk kemudian naik ke tebing seberang sungai yang cukup terjal.

“Semoga Ki Ajar Wringin Anom  tidak sedang bepergian ke luar padepokan,” berkata laki laki paro baya itu dalam hati sambil mulai memanjat tebing yang agak terjal.

Sungai itu memang sangat jarang dirambah oleh manusia. Selain letaknya yang jauh dari pemukiman penduduk, juga tebingnya yang cukup terjal membuat para penghuni padukuhan yang terdekat dengan sungai itu enggan untuk mendatanginya, kecuali jika ada keperluan khusus yang harus dilakukan.

Ketika laki-laki paro baya itu kemudin berhasil  memanjat tebing yang cukup terjal , langit pun sudah benar-benar menjadi gelap. Di hadapannya kini terbentang sebuah rawa-rawa yang cukup luas. Dalam gelapnya malam, tampak kerlap-kerlip binatang malam yang mempunyai kemampuan mengeluarkan sinar dari dalam tubuhnya beterbangan kian kemari menambah indahnya panorama malam.

“Semoga saja tidak ada buaya-buaya kerdil di rawa-rawa ini,” kembali laki-laki paro baya itu bergumam kepada dirinya sendiri, “Aku akan mengambil jalan memutar untuk menghindari  kemungkinan terperosok ke dalam rawa ini. Mungkin ada sejenis binatang buas, sejenis ular berbisa barangkali yang hidup di dalam rawa.”

Berpikir sampai disitu, laki laki paro baya itu segera melangkahkan kakinya menyusuri tepian sungai dari atas tebing. Ketika dirasakannya tanah yang di bawah tebing tidak lagi mengeluarkan bau khas rawa-rawa, lelaki paro baya itu pun kemudian menuruni tebing yang cukup landai sambil berjalan merunduk-runduk di antara lebatnya semak belukar menuju ke arah timur.

Setelah melewati sebuah padang perdu yang cukup luas, kini di hadapan laki-laki paro baya itu telah terbentang tanah pesawahan yang cukup luas di sebelah menyebelah bulak panjang yang menuju ke Kabuyutan Wringin Anom. Tanah pesawahan yang cukup luas itu tampak gersang dan tandus. Di sana sini semak belukar mulai tumbuh. Tanggul tanggul banyak yang rusak serta ditumbuhi rumput-rumput liar.

Memang tanah pesawahan itu digarap hanya mengandalkan hujan yang turun di musim basah. Pada saat musim kering seperti saat ini, tanah-tanah itu dibiarkan saja bera dan tak terawat.

“Seandainya para penghuni Kabuyutan ini mengerti cara bercocok tanam  yang baik, tentu sawah-sawah ini tidak akan dibiarkan terbengkelai,” gumam laki laki paro baya itu sambil berjalan menyusuri bulak yang panjang menuju regol Kabuyutan Wringin Anom.

“Mereka harus menaikkan air sungai dengan cara dibendung,” kembali laki laki paro baya itu berangan-angan, “Dengan menggunakan brunjung-brunjung bambu yang diisi batu dan diatur sedemikian rupa sehingga dapat menahan arus air sungai,  tentu air akan dapat naik ke atas tebing dan dapat digunakan untuk mengairi sawah.”

Laki-laki paro baya itu tersenyum. Dalam angan-angannya terbayang kehidupan yang semakin makmur dari para kawula Kabuyutan Wringin Anom dan sekitarnya.

“Mereka tidak usah menunggu uluran tangan dan bantuan dari Kerajaan Majapahit,” geram laki laki paro baya itu tiba-tiba, “Raja dan para Punggawanya  hanya mementingkan kemakmuran segolongan orang-orang tertentu. Mereka telah mabuk dengan kenikmatan dunia sehingga lupa atas kuwajibannya untuk memberi perlindungan dan kesejahteraan kepada rakyatnya.”


Berangan-angan sampai disini, tampak wajah laki laki paro baya itu menjadi murung. Keadaan pemerintahan yang carut marut telah menumbuhkan tekat di dalam hatinya untuk mengunjungi padepokan Wringin Anom yang terletak di lereng sebelah selatan  gunung Semeru.

KSATRIA KSATRIA BUMI PAJARAKAN

SINOPSIS KSATRIA-KSATRIA BUMI PAJARAKAN

 Brajamusti  adalah keponakan dari  Ken Sora atau lebih dikenal dengan nama Lembu Sora atau Sora saja, pengawal Raden Wijaya yang tetap setia mendampingi ketika melarikan diri dari kejaran pasukan Jayakatwang setelah kerajaan Singosari jatuh.

Setelah “pemberontakan” Sora, karena fitnah dari Mahapati, keluarga Sora akan di tumpes kelor oleh pihak kerajaan yang di prakarsai oleh Mahapati. Berkat jasa Mahesa Pawagal dan Lurah Mandana, Brajamusti berhasil disembunyikan  dan berguru di Padepokan Wringin Anom, sebuah padepokan terpencil di lereng sebelah selatan gunung Semeru.

Brajamusti  pun kemudian tumbuh menjadi pemuda  yang tangguh tanggon dibawah bimbingan Ki Ajar Wringin Anom,  pemimpin Padepokan Wringin Anom.

Sebagaimana dunia anak muda, ternyata Brajamusti  telah terpikat hatinya pada seorang gadis putri satu-satunya Ki Ajar Wringin Anom, Sawitri. Namun ternyata Brajamusti mendapatkan saingan dari seorang Putut yang terlebih dahulu telah berguru di Padepokan Wringin Anom, Gagat Rahina. Persaingan cinta ini terasa bagaikan bara di dalam sekam, namun sebagai saudara seperguruan yang sama sama menimba ilmu dari sumber yang sama, mereka selalu menjaga jarak dan menghindari pertentangan terbuka di hadapan Sawitri.

Ki Ajar Wringin Anom yang mengetahui hubungan antara murid-muridnya dengan putri satu-satunya itu tidak mau ikut campur terlalu jauh. Ki Ajar menyerahkan persoalan itu kepada Sawitri agar mengambil keputusan secara dewasa dan bertanggung jawab.

Sementara itu pergolakan di Majapahit semakin memanas. Berbagai cara dilakukan oleh Mahapati untuk melenyapkan Patih Harya Nambi.  Menyadari hal itu, Ki Ajar Wringin Anom telah mengirimkan murid-murid terbaiknya untuk  bahu membahu membantu Patih Harya Nambi dan pasukan Lamajang bersama Mahesa Pawagal, Lurah Mandana dan Ra Semi mempertahankan benteng Pajarakan dari serangan pasukan Majapahit.

Padepokan Sekar Keluwih 
                                                                                                             

Mbah Man