Sabtu, 29 April 2017
Kamis, 30 Maret 2017
JEJAK-JEJAK YANG TERLUPAKAN (Terusan NSSI)
JEJAK-JEJAK YANG
TERLUPAKAN (Terusan
NSSI)
Sinopsis
Diterimanya
Karebet kembali di lingkungan keprajuritan Demak telah menimbulkan berbagai
tanggapan, baik yang senang maupun yang tidak senang. Bahkan tidak sedikit yang
mencemooh. Salah satunya adalah Tumenggung Prabasemi. Merasa tidak mungkin
bersaing dengan Karebet untuk memenangkan hati Putri Sekar Kedaton, Tumenggung
Prabasemi pun memilih menyingkir dan kembali memperdalam ilmunya untuk suatu
saat melepaskan dendam yang semakin hari semakin menggunung.
Sementara
pemerintahan Demak di bawah Sultan Trenggana mulai memikirkan untuk
mempersatukan tanah Jawa dari ujung sampai ke ujung. Mahesa Jenar yang telah
kembali menyandang pangkat keprajuritan, atas jasa-jasanya dalam menemukan
keris pusaka Kiai Nagasasra dan Kiai Sabuk Inten telah dianugrahi pangkat
Tumenggung. Bersama Gajah Alit dan Paningron, mereka ditugasi untuk menjajagi
kekuatan di wilayah Bang Wetan
Sedangkan
Rara Wilis yang ditinggal suaminya menunaikan tugas, lebih senang ditemani oleh
kakeknya, Ki Ageng Pandan Alas. Dengan senang
hati Ki Ageng Pandan Alas pun memenuhi permintaan cucunya untuk tinggal di
Demak dan sekaligus menanti saat-saat
yang membahagiakan dengan akan lahirnya buah cinta kasih Mahesa Jenar dan Rara
Wilis, yang sekaligus akan menjadi cicitnya.
Di
tanah Perdikan Banyubiru, Ki Ageng Sora Dipayana ternyata lebih senang
meninggalkan kemewahan dunia dan menyepi di tempat yang tidak seorang pun boleh
mengetahuinya. Sedangkan perdikan Banyubiru kembali dipimpin oleh Ki Ageng Gajah
Sora yang dibantu oleh anak laki-laki satu-satunya, Arya Salaka. Sementara Pamingit,
yang dulunya dipimpin oleh Ki Ageng Lembu
Sora, semenjak kematian Sawung Sariti, lebih senang mengundurkan diri dan
menyerahkan Pamingit kepada kakaknya, Ki Ageng Gajah Sora.
Waktu
terus bergulir. Ki Kebo Kanigara dan Endang Widuri memilih tinggal di Karang
Tumaritis memimpin para Cantik, Putut, dan Jejanggan serta para Endang, menggantikan
Panembahan Ismaya yang telah jengkar dan tidak diketahui rimbanya.
Persoalan
muncul ketika padepokan Karang Tumaritis kedatangan seseorang yang mengaku
bernama Jaka Pamungkas. Ki Kebo Kanigara dengan senang hati menerima Jaka
Pamungkas sebagai bagian dari padepokan Karang Tumaritis. Jaka Pamungkas yang
umurnya lebih tua di banding dengan
Karebet, namun sedikit lebih muda dari
Mahesa Jenar itu sebentar saja telah
menjadi akrab dengan Endang Widuri.
Sementara
itu langit Demak mulai tertutup mendung tebal. Harya Penangsang yang merasa
berhak atas tahta, telah menyusun dan menghimpun kekuatan untuk menggulingkan Demak. Para Wali yang mempunyai peran sebagai
Penasehat Kerajaan pun telah berselisih pendapat tentang siapa yang sebenarnya
berhak menduduki tahta.
Akhir
Maret 2017
Padepokan
Sekar Keluwih
Mbah
Man
Selasa, 28 Maret 2017
kiriman STSD 03
Yth para Can Men
STSD 03 sudah terkirim,
bagi para CanMen yang belum dapat, silahkan kirim email lagi ke mbah man
alamat emai: s_sudjatmiko@yahoo.com.au
matur suwun
mbah man
STSD 03 sudah terkirim,
bagi para CanMen yang belum dapat, silahkan kirim email lagi ke mbah man
alamat emai: s_sudjatmiko@yahoo.com.au
matur suwun
mbah man
woro woro
para CanMen YTH,
insyaAlloh jika tidak ada aral melintang, nanti malam satu buku STSD jilid3 akan dikirim
Mohon siap-siap dengan emailnya.
matur suwun
Mbah man
nb: matur suwun atas kesabarannya menunggu
insyaAlloh jika tidak ada aral melintang, nanti malam satu buku STSD jilid3 akan dikirim
Mohon siap-siap dengan emailnya.
matur suwun
Mbah man
nb: matur suwun atas kesabarannya menunggu
Selasa, 14 Maret 2017
Woro-woro
Para CanMen Yth,
Dengan selesainya STSD jilid 02, maka mbah man akan mengambil cuti selama 2 minggu
Untuk STSD jilid 03, rencananya InsyaAlloh akan diwedar sekaligus 1 buku (masih dalam proses)
bagi yang berminat silahkan email ke alamat: s_sudjatmiko@yahoo.com.au
Untuk gandhok Gagak Seta dhi Mas Satpam, otomatis akan mendapat jatah 1 buku jilid 03,
untuk wedaran tiap hari, diserahkan atas kebijaksanaan Mas Satpam. Bagi CanMen yang sudah mendapat jilid 03, mohon tidak mengganggu wedaran Mas Satpam dengan spoilernya.
Di Gandhok mbah man tidak akan ada wedaran, namun silahkan bergojek dan memberikan sumbangsih cerita.
yang terakhir, pemesanan buku jilid 03 ini tidak ada hubungannya dengan donasi, silahkan jika berkenan, jika tidak karena suatu kerepotan juga tidak masalah.
Matur suwun
padepokan sekar keluwih
Sungon, Sidoarjo
mbah man
Dengan selesainya STSD jilid 02, maka mbah man akan mengambil cuti selama 2 minggu
Untuk STSD jilid 03, rencananya InsyaAlloh akan diwedar sekaligus 1 buku (masih dalam proses)
bagi yang berminat silahkan email ke alamat: s_sudjatmiko@yahoo.com.au
Untuk gandhok Gagak Seta dhi Mas Satpam, otomatis akan mendapat jatah 1 buku jilid 03,
untuk wedaran tiap hari, diserahkan atas kebijaksanaan Mas Satpam. Bagi CanMen yang sudah mendapat jilid 03, mohon tidak mengganggu wedaran Mas Satpam dengan spoilernya.
Di Gandhok mbah man tidak akan ada wedaran, namun silahkan bergojek dan memberikan sumbangsih cerita.
yang terakhir, pemesanan buku jilid 03 ini tidak ada hubungannya dengan donasi, silahkan jika berkenan, jika tidak karena suatu kerepotan juga tidak masalah.
Matur suwun
padepokan sekar keluwih
Sungon, Sidoarjo
mbah man
Senin, 13 Maret 2017
STSD 02_26
Sejenak kemudian, pandangan
mata Eyang Guru yang melebihi orang kebanyakan itu segera menangkap dan
mengenali sesosok tubuh yang sedang berjalan dalam kegelapan. Eyang Guru pun
menarik nafas dalam-dalam untuk mengurangi getar di dalam dadanya.
“Marilah Raden,” berkata
Eyang Guru kemudian, “Kita temui Ki Kebo Mengo. Sekalian kita bicarakan rencana
kita untuk ke padepokan Sapta Dhahana nanti menjelang tengange.”
Raden Surengpati masih
ragu-ragu sejenak. Namun ketika pandangan matanya sudah mampu menangkap dan mengenali sesosok
tubuh yang berjalan mendekat itu, wajah Raden Surengpati pun menjadi cerah.
Sambil tersenyum dan mengangguk-angguk, dia segera mengikuti langkah Eyang
Guru.
Dalam pada itu di banjar
padukuhan, Ki Rangga yang sedang dalam puncak samadinya itu ternyata telah
terganggu oleh sesuatu hal yang belum dimengertinya. Sehingga perlahan-lahan
pemusatan nalar dan budi Ki Rangga pun mulai memudar seiring dengan kesadaran yang mulai memenuhi otaknya. Sejenak kemudian Ki
Rangga pun telah terjaga dari samadinya dan tersadar sepenuhnya.
“Apa yang sebenarnya telah
terjadi, ngger?” pertanyaan itulah yang pertama kali didengar oleh Ki Rangga
begitu dia membuka kedua matanya.
Sambil bangkit dan kemudian
duduk bersila, Ki Rangga berpaling ke arah Ki Waskita yang duduk di
sebelahnya. Jawabnya kemudian, “Ki Waskita, aku merasakan sesuatu yang aneh
telah terjadi dalam samadiku.”
Ki Waskita mengerutkan
keningnya dalam-dalam. Katanya kemudian, “Angger sedang dalam puncak samadi
ketika tiba-tiba saja aku menyadari angger sepertinya mengalami sedikit
gangguan dan kemudian samadi angger pun telah badar.”
Ki Rangga menarik nafas
dalam-dalam. Sambil menggeser duduknya menghadap penuh ke arah Ki Waskita, Ki
Rangga pun kemudian menceritakan pengalaman yang didapatkannya selama dalam
puncak samadinya.
“Ketika aku sedang
berhadapan dengan orang yang menyebut dirinya Ki Kebo Mengo,” demikian Ki
Rangga memulai ceritanya, “Panggraitaku telah menangkap adanya gerakan dari dua
orang yang sedang berada di sekitar tempat itu.”
“Apakah angger mengenali mereka?” potong Ki Waskita dengan nada sedikit tidak sabar.
“Ya, Ki,” jawab Ki Rangga, “Aku
mengenal salah satu dari mereka adalah orang yang pernah berselisih denganku di
kediaman Ki Gede Menoreh beberapa saat yang lalu.”
Mendengar penjelasan Ki
Rangga, Ki Waskita pun segera teringat dengan peristiwa yang terjadi di
kediaman Ki Gede Menoreh. Maka tanya Ki Waskita kemudian, “Apakah yang angger
maksud itu adalah salah satu pengikut Trah Sekar Seda Lepen yang menyebut
dirinya Eyang Guru?”
“Benar, Ki,” sahut Ki Rangga
dengan serta merta. Lanjutnya kemudian, “Dan yang satunya adalah orang yang selama ini menghantui tanah
Perdikan Matesih, Raden Mas Harya Surengpati.”
Ki Waskita mengerutkan
keningnya. Tanya Ki Waskita kemudian, “Bagaimana angger bisa mengetahuinya?”
“Aku mendengar Eyang Guru
menyebut namanya,” jawab Ki Rangga, “Namun ternyata mereka berdua tidak ikut
melibatkan diri dengan Ki Kebo Mengo. Eyang Guru lebih memilih menuju ke banjar
padukuhan.”
Sejenak wajah Ki Waskita menegang.
Berbagai tanggapan telah muncul dalam benaknya. Namun sebelum Ki Waskita
bertanya lebih jauh, ternyata Ki Rangga segera
memberi penjelasan.
“Ki Waskita,” berkata Ki
Rangga kemudian, “Ternyata Eyang Guru itu telah mengetahui kelemahan aji
pengangen-angen. Dengan sangat yakin Eyang Guru berencana untuk mendapatkan
wadagku yang sedang dalam puncak samadi dan kemudian dengan sangat mudahnya dia
akan membunuhku.”
Ki Waskita menarik nafas
panjang mendengar keterangan Ki Rangga. Untuk beberapa saat ayah Rudita itu
termenung. Memang di dunia ini tidak ada yang sempurna. Kesempurnaan itu
hanya milik Yang Maha Kuasa dari segala yang berkuasa di muka bumi ini. Aji
pengangen-angen pada dasarnya adalah sebuah aji sang sangat ngedab-edabi, namun
mempunyai satu kelemahan, yaitu justru terletak pada wadag orang yang menguasai
ilmu itu sendiri.
Kembali Ki Waskita menarik
nafas dalam-dalam sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Bertanya Ki Waskita
selanjutnya, “Apakah angger kemudian memutuskan untuk meninggalkan Ki Kebo
Mengo dan mengejar mereka berdua?”
Ki Rangga tidak segera
menjawab. Untuk beberapa saat Ki Rangga masih mencoba menilai apa yang telah
dilakukannya beberapa saat yang lalu.
bersambung ke STSD 03
Sabtu, 11 Maret 2017
STSD 02_25
“Ki Rangga Agung Sedayu?”
hampir bersamaan kedua orang itu berdesis perlahan namun terdengar suara mereka
bergetar seiring dengan degup jantung mereka yang tiba-tiba saja telah
melonjak-lonjak tak terkendali.
“Bagaimana mungkin?”
terdengar Eyang Guru kembali berdesis sambil mengerutkan keningnya dalam-dalam,
“Apakah Ki Kebo Mengo sedemikian mudahnya dapat ditundukkan oleh Ki Rangga?”
“Belum tentu,” sergah Raden
Surengpati dengan dada berdebaran. Pandangan matanya tak pernah lepas dari ujud
bayangan Ki Rangga yang berdiri beberapa tombak di depannya, “Ki Kebo Mengo
adalah orang kepercayaan Kakangmas Wirasena. Aku yakin ujud bayangan
semu Ki Rangga lah yang melarikan diri.”
“Melarikan diri?” ulang
Eyang Guru dengan nada keheranan, “Melarikan diri karena kalah beradu ilmu
dengan si Kerbau bodoh itu?”
Sejenak merah padam wajah
Raden Surengpati. Namun dengan cepat kesan itu dihapus dari wajahnya. Katanya
kemudian, “Maksudku, Ki Rangga mungkin mengetahui gerak-gerik kita dan
memutuskan untuk mengejar kita berdua.”
Eyang Guru sejenak tertegun.
Jika memang benar Ki Rangga telah mengetahui gerak-gerik dirinya dan Raden
Surengpati, tentu agul-agulnya Mataram itu telah mencapai tingkat yang nyaris
sempurna dalam menguasai panggraitanya untuk melacak keberadaan seseorang.
Namun selagi kedua orang itu
menduga-duga apa sebenarnya yang telah terjadi dengan Ki Kebo Mengo, tiba-tiba
saja bayangan semu Ki Rangga perlahan-lahan menghilang bagaikan asap yang tertiup
angin kencang.
“He?!” hampir bersamaan
keduanya berseru tertahan. Detak jantung mereka yang semula mulai tenang kini
melonjak-lonjak kembali.
“Apakah sebenarnya yang
telah terjadi?” bertanya Raden Surengpati dengan kening yang berkerut-merut.
Sementara Eyang Guru yang berdiri di sebelahnya segera menundukkan kepalanya
serta menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Eyang Guru hanya memerlukan
waktu sekejab untuk menilai keadaan di sekelilingnya. Sejenak kemudian, Eyang
Guru pun telah mengangkat wajahnya serta mengurai kedua tangannya yang
bersilang di dada.
“Ki Rangga telah pergi,”
desis Eyang Guru kemudian sambil menarik nafas panjang.
Raden Surengpati yang berada
di sebelahnya berpaling. Dengan nada sedikit ragu-ragu, Raden Surengpati pun
kemudian bertanya, “Pergi? Mengapa?”
Kembali Eyang Guru menarik
nafas dalam. Jawabnya kemudian, “Entahlah. Aku tidak dapat menduga permainan
apakah yang sedang ditunjukkan oleh Ki Rangga? Namun yang jelas, ilmu Ki Rangga
dari hari ke hari rasa-rasanya semakin tinggi dan mumpuni. Aku khawatir, jika
tidak segera dihentikan, cita-cita Trah Sekar Seda Lepen hanya akan tinggal mimpi
belaka.”
Berdesir dada Raden
Surengpati. Namun di dalam hatinya masih ada sepercik harapan. Jika Kakandanya
mampu menarik Kiai Damar Sasangka untuk bergabung, mereka akan mempunyai
kekuatan yang setara bahkan mungkin lebih tinggi dibanding dengan kekuatan
Mataram.
“Sudahlah,” berkata Eyang
Guru kemudian membuyarkan lamunan Raden Surengpati, “Lebih baik kita kembali
saja. Aku mempunyai rencana untuk pergi ke gunung Tidar selepas tengange. Ada
yang harus segera kita bicarakan dengan Raden Wirasena dan para penghuni perguruan Sapta Dhahana itu.”
Selesai berkata demikian
tanpa menunggu tanggapan Raden Surengpati, Eyang Guru segera melangkahkan kaki
kembali menuju ke perdikan Matesih. Sementara Raden Surengpati dengan
tergesa-gesa segera mengikuti di belakangnya.
Demikianlah akhirnya, kedua
orang itu telah memutuskan untuk kembali ke Tanah Perdikan Matesih. Agaknya Eyang
Guru telah memperhitungkan untung ruginya jika harus berhadapan dengan kelima
orang yang sedang bermalam di dukuh Klangon itu. Jika dugaan Raden Surengpati
benar bahwa Ki Juru Mertani ada di antara kelima orang itu, Trah Sekar Seda Lepen
harus benar-benar berhitung cermat dalam mengukur kekuatan mereka.
Sejenak kemudian kedua orang
itu telah menyusuri jalan dukuh Klangon yang sepi. Kali ini mereka tidak
melewati halaman-halaman rumah yang sepi serta meloncati pagar-pagar yang
tinggi. Mereka menyusuri jalan sebagaimana biasanya, tidak harus dengan cara sembunyi-sembunyi.
Namun belum ada sepenginang
sirih mereka berdua berjalan, pendengaran Eyang Guru yang lebih tajam dibanding
Raden Mas Harya Surengpati telah menangkap desir lembut dari arah yang
berlawanan sedang menuju ke tempat mereka.
Segera saja Eyang Guru
menghentikan langkahnya.
“Ada apa?” bertanya Raden
Surengpati sambil ikut menghentikan langkahnya.
Eyang Guru tidak segera
menjawab. Langkah itu memang masih cukup jauh, namun pendengaran Eyang Guru
yang luar biasa tajamnya telah mampu menangkapnya.
“Eyang Guru,” kembali Raden
Surengpati bertanya, “Apakah Eyang Guru melihat sesuatu yang mencurigakan?”
Eyang Guru menarik nafas
dalam-dalam terlebih dahulu sebelum menjawab. Katanya kemudian setengah
berbisik, “Yang datang kemudian ini menurut pengamatanku juga termasuk orang
yang mumpuni menilik desir langkahnya yang sangat lembut. Namun aku yakin ini
bukan bayangan semu Ki Rangga. Sebuah bayangan semu tidak dapat dikenali desir
langkahnya, karena dia hanya berupa sebuah bayangan.”
“Karena itulah kehadiran
bayangan semu Ki Rangga beberapa saat tadi tidak dapat diketahui oleh Eyang
Guru,” sahut Raden Surengpati.
“Benar Raden,” jawab Eyang
Guru, “Aku dapat mengenalinya jika bayangan itu sudah berujud. Namun jika dia menghilang, aku yakin tidak ada seorang pun yang akan mampu untuk melacaknya. Itulah sebabnya ilmu Ki Rangga itu benar-benar tidak ada duanya. Jika Ki
Rangga mampu mematangkannya, seorang diri saja dia akan mampu menggulung jagad.”
Raden Surengpati
mengangguk-anggukkan kepalanya. Sementara suara desir langkah itu telah menjadi semakin
dekat sehingga kini adik orang yang mengaku Trah Sekar Seda Lepen itu pun sudah mampu mendengarnya.
Langganan:
Postingan
(
Atom
)
