Kamis, 30 Maret 2017

JEJAK-JEJAK YANG TERLUPAKAN (Terusan NSSI)

JEJAK-JEJAK YANG TERLUPAKAN (Terusan NSSI)
Sinopsis

Diterimanya Karebet kembali di lingkungan keprajuritan Demak telah menimbulkan berbagai tanggapan, baik yang senang maupun yang tidak senang. Bahkan tidak sedikit yang mencemooh. Salah satunya adalah Tumenggung Prabasemi. Merasa tidak mungkin bersaing dengan Karebet untuk memenangkan hati Putri Sekar Kedaton, Tumenggung Prabasemi pun memilih menyingkir dan kembali memperdalam ilmunya untuk suatu saat melepaskan dendam yang semakin hari semakin menggunung.

Sementara pemerintahan Demak di bawah Sultan Trenggana mulai memikirkan untuk mempersatukan tanah Jawa dari ujung sampai ke ujung. Mahesa Jenar yang telah kembali menyandang pangkat keprajuritan, atas jasa-jasanya dalam menemukan keris pusaka Kiai Nagasasra dan Kiai Sabuk Inten telah dianugrahi pangkat Tumenggung. Bersama Gajah Alit dan Paningron, mereka ditugasi untuk menjajagi kekuatan di wilayah Bang Wetan
Sedangkan Rara Wilis yang ditinggal suaminya menunaikan tugas, lebih senang ditemani oleh kakeknya, Ki Ageng Pandan Alas.  Dengan senang hati Ki Ageng Pandan Alas pun memenuhi permintaan cucunya untuk tinggal di Demak dan sekaligus  menanti saat-saat yang membahagiakan dengan akan lahirnya buah cinta kasih Mahesa Jenar dan Rara Wilis, yang sekaligus akan menjadi cicitnya.

Di tanah Perdikan Banyubiru, Ki Ageng Sora Dipayana ternyata lebih senang meninggalkan kemewahan dunia dan menyepi di tempat yang tidak seorang pun boleh mengetahuinya. Sedangkan perdikan Banyubiru kembali dipimpin oleh Ki Ageng Gajah Sora yang dibantu oleh anak laki-laki satu-satunya, Arya Salaka. Sementara Pamingit, yang dulunya dipimpin oleh  Ki Ageng Lembu Sora, semenjak kematian Sawung Sariti, lebih senang mengundurkan diri dan menyerahkan Pamingit kepada kakaknya, Ki Ageng Gajah Sora.

Waktu terus bergulir. Ki Kebo Kanigara dan Endang Widuri memilih tinggal di Karang Tumaritis memimpin para Cantik, Putut, dan Jejanggan serta para Endang, menggantikan Panembahan Ismaya yang telah jengkar dan tidak diketahui rimbanya.

Persoalan muncul ketika padepokan Karang Tumaritis kedatangan seseorang yang mengaku bernama Jaka Pamungkas. Ki Kebo Kanigara dengan senang hati menerima Jaka Pamungkas sebagai bagian dari padepokan Karang Tumaritis. Jaka Pamungkas yang umurnya lebih tua  di banding dengan Karebet, namun sedikit lebih muda  dari Mahesa Jenar  itu sebentar saja telah menjadi akrab dengan Endang Widuri.

Sementara itu langit Demak mulai tertutup mendung tebal. Harya Penangsang yang merasa berhak atas tahta, telah menyusun dan menghimpun kekuatan untuk menggulingkan  Demak. Para Wali yang mempunyai peran sebagai Penasehat Kerajaan pun telah berselisih pendapat tentang siapa yang sebenarnya berhak menduduki tahta.

Akhir Maret 2017
Padepokan Sekar Keluwih


Mbah Man

Selasa, 28 Maret 2017

kiriman STSD 03

Yth para Can Men

STSD 03 sudah terkirim,
bagi para CanMen yang belum dapat, silahkan kirim email lagi ke mbah man
alamat emai: s_sudjatmiko@yahoo.com.au

matur suwun
mbah man

woro woro

para CanMen YTH,

insyaAlloh jika tidak ada aral melintang, nanti malam satu buku STSD jilid3 akan dikirim
Mohon siap-siap dengan emailnya.
matur suwun

Mbah man
nb: matur suwun atas kesabarannya menunggu

Selasa, 14 Maret 2017

Woro-woro

Para CanMen Yth,

Dengan selesainya STSD jilid 02, maka mbah man akan mengambil cuti selama 2 minggu
Untuk STSD jilid 03, rencananya InsyaAlloh akan diwedar sekaligus 1 buku (masih dalam proses)
bagi yang berminat silahkan email ke alamat: s_sudjatmiko@yahoo.com.au
Untuk gandhok Gagak Seta dhi Mas Satpam, otomatis akan mendapat jatah 1 buku jilid 03,
untuk wedaran tiap hari, diserahkan atas kebijaksanaan Mas Satpam. Bagi CanMen yang sudah mendapat jilid 03, mohon tidak mengganggu wedaran Mas Satpam dengan spoilernya.
Di Gandhok mbah man tidak akan ada wedaran, namun silahkan bergojek dan memberikan sumbangsih cerita.
yang terakhir, pemesanan buku jilid 03 ini tidak ada hubungannya dengan donasi, silahkan jika berkenan, jika tidak karena suatu kerepotan juga tidak masalah.
Matur suwun

padepokan sekar keluwih
Sungon, Sidoarjo

mbah man

Senin, 13 Maret 2017

STSD 02_26

Sejenak kemudian, pandangan mata Eyang Guru yang melebihi orang kebanyakan itu segera menangkap dan mengenali sesosok tubuh yang sedang berjalan dalam kegelapan. Eyang Guru pun menarik nafas dalam-dalam untuk mengurangi getar di dalam dadanya.

“Marilah Raden,” berkata Eyang Guru kemudian, “Kita temui Ki Kebo Mengo. Sekalian kita bicarakan rencana kita untuk ke padepokan Sapta Dhahana nanti menjelang tengange.”

Raden Surengpati masih ragu-ragu sejenak. Namun ketika pandangan matanya sudah mampu menangkap dan mengenali sesosok tubuh yang berjalan mendekat itu, wajah Raden Surengpati pun menjadi cerah. Sambil tersenyum dan mengangguk-angguk, dia segera mengikuti langkah Eyang Guru.

Dalam pada itu di banjar padukuhan, Ki Rangga yang sedang dalam puncak samadinya itu ternyata telah terganggu oleh sesuatu hal yang belum dimengertinya. Sehingga perlahan-lahan pemusatan nalar dan budi Ki Rangga pun mulai memudar seiring dengan kesadaran yang mulai memenuhi otaknya. Sejenak kemudian Ki Rangga pun telah terjaga dari samadinya dan tersadar sepenuhnya.

“Apa yang sebenarnya telah terjadi, ngger?” pertanyaan itulah yang pertama kali didengar oleh Ki Rangga begitu dia membuka kedua matanya.

Sambil bangkit dan kemudian duduk bersila, Ki Rangga berpaling ke arah Ki Waskita yang duduk di sebelahnya. Jawabnya kemudian, “Ki Waskita, aku merasakan sesuatu yang aneh telah terjadi dalam samadiku.”

Ki Waskita mengerutkan keningnya dalam-dalam. Katanya kemudian, “Angger sedang dalam puncak samadi ketika tiba-tiba saja aku menyadari angger sepertinya mengalami sedikit gangguan dan kemudian samadi angger pun telah badar.”

Ki Rangga menarik nafas dalam-dalam. Sambil menggeser duduknya menghadap penuh ke arah Ki Waskita, Ki Rangga pun kemudian menceritakan pengalaman yang didapatkannya selama dalam puncak samadinya.

“Ketika aku sedang berhadapan dengan orang yang menyebut dirinya Ki Kebo Mengo,” demikian Ki Rangga memulai ceritanya, “Panggraitaku telah menangkap adanya gerakan dari dua orang yang sedang berada di sekitar tempat itu.”

“Apakah angger mengenali mereka?” potong Ki Waskita dengan nada sedikit tidak sabar.

“Ya, Ki,” jawab Ki Rangga, “Aku mengenal salah satu dari mereka adalah orang yang pernah berselisih denganku di kediaman Ki Gede Menoreh beberapa saat yang lalu.”

Mendengar penjelasan Ki Rangga, Ki Waskita pun segera teringat dengan peristiwa yang terjadi di kediaman Ki Gede Menoreh. Maka tanya Ki Waskita kemudian, “Apakah yang angger maksud itu adalah salah satu pengikut Trah Sekar Seda Lepen yang menyebut dirinya Eyang Guru?”

“Benar, Ki,” sahut Ki Rangga dengan serta merta. Lanjutnya kemudian, “Dan yang satunya adalah  orang yang selama ini menghantui tanah Perdikan Matesih, Raden Mas Harya Surengpati.”

Ki Waskita mengerutkan keningnya. Tanya Ki Waskita kemudian, “Bagaimana angger bisa mengetahuinya?”

“Aku mendengar Eyang Guru menyebut namanya,” jawab Ki Rangga, “Namun ternyata mereka berdua tidak ikut melibatkan diri dengan Ki Kebo Mengo. Eyang Guru lebih memilih menuju ke banjar padukuhan.”

Sejenak wajah Ki Waskita menegang. Berbagai tanggapan telah muncul dalam benaknya. Namun sebelum Ki Waskita bertanya lebih jauh, ternyata Ki Rangga  segera memberi penjelasan.

“Ki Waskita,” berkata Ki Rangga kemudian, “Ternyata Eyang Guru itu telah mengetahui kelemahan aji pengangen-angen. Dengan sangat yakin Eyang Guru berencana untuk mendapatkan wadagku yang sedang dalam puncak samadi dan kemudian dengan sangat mudahnya dia akan membunuhku.”

Ki Waskita menarik nafas panjang mendengar keterangan Ki Rangga. Untuk beberapa saat ayah Rudita itu termenung. Memang di dunia ini tidak ada yang sempurna. Kesempurnaan itu hanya milik Yang Maha Kuasa dari segala yang berkuasa di muka bumi ini. Aji pengangen-angen pada dasarnya adalah sebuah aji sang sangat ngedab-edabi, namun mempunyai satu kelemahan, yaitu justru terletak pada wadag orang yang menguasai ilmu itu sendiri.

Kembali Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Bertanya Ki Waskita selanjutnya, “Apakah angger kemudian memutuskan untuk meninggalkan Ki Kebo Mengo dan  mengejar mereka berdua?”


Ki Rangga tidak segera menjawab. Untuk beberapa saat Ki Rangga masih mencoba menilai apa yang telah dilakukannya beberapa saat yang lalu.

bersambung ke  STSD 03

Sabtu, 11 Maret 2017

STSD 02_25

“Ki Rangga Agung Sedayu?” hampir bersamaan kedua orang itu berdesis perlahan namun terdengar suara mereka bergetar seiring dengan degup jantung mereka yang tiba-tiba saja telah melonjak-lonjak tak terkendali.

“Bagaimana mungkin?” terdengar Eyang Guru kembali berdesis sambil mengerutkan keningnya dalam-dalam, “Apakah Ki Kebo Mengo sedemikian mudahnya dapat ditundukkan oleh  Ki Rangga?”

“Belum tentu,” sergah Raden Surengpati dengan dada berdebaran. Pandangan matanya tak pernah lepas dari ujud bayangan Ki Rangga yang berdiri beberapa tombak di depannya, “Ki Kebo Mengo adalah orang kepercayaan Kakangmas Wirasena. Aku yakin ujud bayangan semu Ki Rangga lah yang melarikan diri.”

“Melarikan diri?” ulang Eyang Guru dengan nada keheranan, “Melarikan diri karena kalah beradu ilmu dengan si Kerbau bodoh itu?”

Sejenak merah padam wajah Raden Surengpati. Namun dengan cepat kesan itu dihapus dari wajahnya. Katanya kemudian, “Maksudku, Ki Rangga mungkin mengetahui gerak-gerik kita dan memutuskan untuk mengejar kita berdua.”

Eyang Guru sejenak tertegun. Jika memang benar Ki Rangga telah mengetahui gerak-gerik dirinya dan Raden Surengpati, tentu agul-agulnya Mataram itu telah mencapai tingkat yang nyaris sempurna dalam menguasai panggraitanya untuk melacak keberadaan seseorang.

Namun selagi kedua orang itu menduga-duga apa sebenarnya yang telah terjadi dengan Ki Kebo Mengo, tiba-tiba saja bayangan semu Ki Rangga perlahan-lahan menghilang bagaikan asap yang tertiup angin kencang.

“He?!” hampir bersamaan keduanya berseru tertahan. Detak jantung mereka yang semula mulai tenang kini melonjak-lonjak kembali.

“Apakah sebenarnya yang telah terjadi?” bertanya Raden Surengpati dengan kening yang berkerut-merut. Sementara Eyang Guru yang berdiri di sebelahnya segera menundukkan kepalanya serta menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

Eyang Guru hanya memerlukan waktu sekejab untuk menilai keadaan di sekelilingnya. Sejenak kemudian, Eyang Guru pun telah mengangkat wajahnya serta mengurai kedua tangannya yang bersilang di dada.

“Ki Rangga telah pergi,” desis Eyang Guru kemudian sambil menarik nafas panjang.

Raden Surengpati yang berada di sebelahnya berpaling. Dengan nada sedikit ragu-ragu, Raden Surengpati pun kemudian bertanya, “Pergi? Mengapa?”

Kembali Eyang Guru menarik nafas dalam. Jawabnya kemudian, “Entahlah. Aku tidak dapat menduga permainan apakah yang sedang ditunjukkan oleh Ki Rangga? Namun yang jelas, ilmu Ki Rangga dari hari ke hari rasa-rasanya semakin tinggi dan mumpuni. Aku khawatir, jika tidak segera dihentikan, cita-cita Trah Sekar Seda Lepen hanya akan tinggal mimpi belaka.”

Berdesir dada Raden Surengpati. Namun di dalam hatinya masih ada sepercik harapan. Jika Kakandanya mampu menarik Kiai Damar Sasangka untuk bergabung, mereka akan mempunyai kekuatan yang setara bahkan mungkin lebih tinggi dibanding dengan kekuatan Mataram.

“Sudahlah,” berkata Eyang Guru kemudian membuyarkan lamunan Raden Surengpati, “Lebih baik kita kembali saja. Aku mempunyai rencana untuk pergi ke gunung Tidar selepas tengange. Ada yang harus segera kita bicarakan dengan Raden Wirasena dan para penghuni perguruan Sapta Dhahana itu.”

Selesai berkata demikian tanpa menunggu tanggapan Raden Surengpati, Eyang Guru segera melangkahkan kaki kembali menuju ke perdikan Matesih. Sementara Raden Surengpati dengan tergesa-gesa segera mengikuti di belakangnya.

Demikianlah akhirnya, kedua orang itu telah memutuskan untuk kembali ke Tanah Perdikan Matesih. Agaknya Eyang Guru telah memperhitungkan untung ruginya jika harus berhadapan dengan kelima orang yang sedang bermalam di dukuh Klangon itu. Jika dugaan Raden Surengpati benar bahwa Ki Juru Mertani ada di antara kelima orang itu, Trah Sekar Seda Lepen harus benar-benar berhitung cermat dalam mengukur kekuatan mereka.

Sejenak kemudian kedua orang itu telah menyusuri jalan dukuh Klangon yang sepi. Kali ini mereka tidak melewati halaman-halaman rumah yang sepi serta meloncati pagar-pagar yang tinggi. Mereka menyusuri jalan sebagaimana biasanya, tidak harus dengan cara sembunyi-sembunyi.

Namun belum ada sepenginang sirih mereka berdua berjalan, pendengaran Eyang Guru yang lebih tajam dibanding Raden Mas Harya Surengpati telah menangkap desir lembut dari arah yang berlawanan sedang menuju ke tempat mereka.

Segera saja Eyang Guru menghentikan langkahnya.

“Ada apa?” bertanya Raden Surengpati sambil ikut menghentikan langkahnya.

Eyang Guru tidak segera menjawab. Langkah itu memang masih cukup jauh, namun pendengaran Eyang Guru yang luar biasa tajamnya telah mampu menangkapnya.

“Eyang Guru,” kembali Raden Surengpati bertanya, “Apakah Eyang Guru melihat sesuatu yang mencurigakan?”

Eyang Guru menarik nafas dalam-dalam terlebih dahulu sebelum menjawab. Katanya kemudian setengah berbisik, “Yang datang kemudian ini menurut pengamatanku juga termasuk orang yang mumpuni menilik desir langkahnya yang sangat lembut. Namun aku yakin ini bukan bayangan semu Ki Rangga. Sebuah bayangan semu tidak dapat dikenali desir langkahnya, karena dia hanya berupa sebuah bayangan.”

“Karena itulah kehadiran bayangan semu Ki Rangga beberapa saat tadi tidak dapat diketahui oleh Eyang Guru,” sahut Raden Surengpati.

“Benar Raden,” jawab Eyang Guru, “Aku dapat mengenalinya jika bayangan itu sudah berujud. Namun jika dia menghilang, aku yakin tidak ada seorang pun yang akan mampu untuk melacaknya. Itulah sebabnya ilmu Ki Rangga itu benar-benar tidak ada duanya. Jika Ki Rangga mampu mematangkannya, seorang diri saja dia akan mampu menggulung jagad.”


Raden Surengpati mengangguk-anggukkan kepalanya. Sementara suara desir langkah itu telah menjadi semakin dekat sehingga kini adik orang yang mengaku Trah Sekar Seda Lepen itu pun sudah mampu mendengarnya.