Selasa, 17 Desember 2019
Kamis, 05 Desember 2019
Sabtu, 28 September 2019
STSD 16 telah terbit. Yang berkenan segera daftar
Tiba-tiba
terlintas dalam ingatan Ki Rangga apa yang tertulis pada lembar pertama kitab Ki
Waskita.
“Bahwa saat bintang yang cahayanya seperti seribu obor yang menyala
dilangit, seorang pertapa yang telah menjauhkan diri dari libatan pengaruh
duniawi, dan yang telah mendekatkan diri pada sangkan paraning dumadi,
yang diberi pertanda oleh Yang Maha Sakti dengan gelar Empu Pahari, telah
menerima wisik di dalam mimpi menjelang fajar menyingsing, bahwa
tangannya akan menjadi lantaran turunnya ilmu yang akan diwarisi oleh para
sakti yang mendapat anugerah sejati, untuk diamalkan sesuai dengan tetesan hati
yang bening dalam kasih. Dan mereka yang mewarisi di atas alas kebenaran akan
menjadi pelita yang dapat menerangi kegelapan di sekitarnya. Akan terdengar
sorak sorai kegembiraan di hati sesama yang dilindunginya dan akan terdengar
gemeretak gigi dan tangis kehancuran bagi mereka yang terkena azabnya karena
langkah yang sesat. Terpujilah Yang Maha Benar"
Monggo yang berkenan untuk teman malam mingguan langsung daftar
matur suwun
Monggo yang berkenan untuk teman malam mingguan langsung daftar
matur suwun
Senin, 12 Agustus 2019
woro2 lagi
Assalamu 'alaikum
@ cantrik mentrik ingkang dahat kinurmatan
Jika masih ada Cantrik Mentrik yang masih berkenan mendapatkan STSD 15, silahkan email ke s_sudjatmiko@yahoo.com.au
tidak ada persyaratan yang mengikat. Jika berkenan donasi, sangat disyukuri. Jika berkenan mendoakan untuk kebaikan dan kesehatan juga sangat disyukuri. Yang penting terjalin tali silahturahmi.
Terus terang mbah man kesulitan untuk mencari alamat email masing2 CanMen, karena alamat email bercampur dengan yang lain2. maklum sudah tua dan GapTek.
semoga dimaklumi dan berkenan
matur suwun sebelumnya
Wassalamu 'alaikum
Padepokan Sekar Keluwih Sidoarjo
mbah man
@ cantrik mentrik ingkang dahat kinurmatan
Jika masih ada Cantrik Mentrik yang masih berkenan mendapatkan STSD 15, silahkan email ke s_sudjatmiko@yahoo.com.au
tidak ada persyaratan yang mengikat. Jika berkenan donasi, sangat disyukuri. Jika berkenan mendoakan untuk kebaikan dan kesehatan juga sangat disyukuri. Yang penting terjalin tali silahturahmi.
Terus terang mbah man kesulitan untuk mencari alamat email masing2 CanMen, karena alamat email bercampur dengan yang lain2. maklum sudah tua dan GapTek.
semoga dimaklumi dan berkenan
matur suwun sebelumnya
Wassalamu 'alaikum
Padepokan Sekar Keluwih Sidoarjo
mbah man
Senin, 29 Juli 2019
Woro2
Jika tidak ada aral melntang dan gambar sudah selesai, besuk STSD 15 akan terbit
mohon yang berkenan langsung ke TKP
email : s_sudjatmiko@yahoo.com.au
matur suwun
Minggu, 23 Juni 2019
woro-woro
@ para CanMen yang berkenan STSD 14
mohon langsung ke TKP email: s_sudjatmiko@yahoo.com.au
jangan di Blog ini karena mbah man jarang berkunjung ke taman ini
mohon perhatian dan terima kasih
salam,
mbah man
mohon langsung ke TKP email: s_sudjatmiko@yahoo.com.au
jangan di Blog ini karena mbah man jarang berkunjung ke taman ini
mohon perhatian dan terima kasih
salam,
mbah man
Kamis, 02 Mei 2019
STSD 14

“Ternyata sifat Ki Swandaru telah menurun kepada anaknya,” hampir setiap dada telah terguncang oleh pernyataan sikap Bayu Swandana itu.
“Kasihan Nyi Pandan Wangi,” seorang pengawal yang rambutnya mulai beruban
melanjutkan angan-angannya, “Semoga Ki
Argapati di Menoreh lambat laun akan mampu membentuk anak ini menjadi anak yang
andap asor dan berbudi luhur serta menjadi harapan bagi masa depan kedua daerah
yang besar itu.”
Sedangkan perempuan parobaya yang
ternyata adalah Pandan Wangi, ibu Bayu Swandana itu justru telah terpekur di
atas kudanya yang berderap perlahan. Berbagai tanggapan pun telah tumbuh di
dalam hatinya.
“Ayah Demang memang terlalu
memanjakannya,” berkata Pandan Wangi dalam hati sambil terus mengendalikan
kudanya agar tidak berderap terlalu kencang, “Apapun tingkah lakunya selalu
dibenarkan dan didukung. Mungkin kenangan atas kakang Swandaru telah membuat
ayah Demang berbuat seperti itu.”
Demikianlah kelima kuda ekor itu berderap
terus menyusuri pinggir hutan yang masih cukup lebat. Sesekali mereka melihat
beberapa ekor kera bergelantungan di pepohonan di pinggir hutan. Terdengar
suara mereka yang ribut dan saling bersahut-sahutan.
“Paman,” tiba-tiba Bayu Swandana
menyeluthuk, “Mengapa kera-kera itu mengikuti kita?”
Orang yang dipanggil paman itu tersenyum
sebelum menjawab. Jawabnya kemudian, “Tentu saja mereka bercuriga terhadap
kita. Mereka selalu bercuriga terhadap sesuatu yang mereka anggap asing dan
berbahaya bagi kelompok mereka. Sebenarnyalah mereka hanya berusaha mengawal
kita sampai keluar hutan untuk meyakinkan bahwa kita tidak akan mengganggu mereka.”
Tampak kepala Bayu Swandana
terangguk-angguk. Kemudian sambil sedikit berteriak dia bertanya kepada Pandan
Wangi yang berkuda di depan, “Biyung, masih lamakah perjalanan ini?”
Pandan Wangi yang kembali berkuda di
depan berpaling ke belakang sekilas sambil menjawab, “Sedikit lagi, ngger. Bersabarlah.
Nanti setelah sampai di kediaman kakek Argapati, engkau dapat beristirahat
sepuas-puasnya.”
“Aku tidak akan tidur,biyung,” sela Bayu
Swandana cepat, “Aku akan mengajak kakek Argapati untuk berkuda berkeliling
perdikan Menoreh.”
Pandan Wangi tersenyum mendengar ucapan
anak laki-laki satu-satunya yang terdengar penuh semangat itu. Beberapa
pengawal yang ikut dalam rombongan itu pun tampak tersenyum.
“Malam-malam engkau akan berkuda, ngger?”
tiba-tiba salah seorang pengawal yang berkuda di belakang bertanya.
Bayu Swandana berusaha berpaling ke
belakang untuk melihat pengawal yang bertanya itu. Namun pandangan matanya
tertutup tubuh pengawal yang berkuda dengannya. Maka jawabnya sambil sedikit
berteriak, “Apa salahnya berkuda malam-malam? Udara malam tidak sepanas siang
hari sehingga kita tidak akan cepat lelah dan dapat berkuda sepuas-puasnya.”
“Namun kuda juga perlu beristirahat,”
sahut pengawal yang berkuda bersamanya, “Sebagaimana manusia, binatang juga
perlu beristirahat di malam hari.”
“Tapi kelelawar itu justru berkeliaran di
malam hari,” sergah Bayu Swandana cepat, “Pohon jambu di belakang dapur itu
buahnya yang sudah masak habis dimakan kelelawar. Padahal aku baru mau
memetiknya keesokan harinya.”
Orang-orang yang mendengar gerutu Bayu
Swandana itu tak urung telah tersenyum geli.
“Ngger, Tuhan Yang Maha Agung menciptakan
makhlukNya berbeda-beda,” jawab pengawal yang berkuda dengannya sambil
tersenyum sareh, “Ada makhluk yang memang menggunakan siang hari untuk bekerja
dan malam hari untuk berisitrahat, contohnya kita sebagai manusia. Namun ada
juga makhluk yang menggunakan siang hari untuk beristirahat dan malam hari
untuk mencari makan, salah satunya adalah kelelawar itu.”
“Tapi manusia kadang-kadang ada yang
hidupnya seperti kelelawar,” sahut Bayu Swandana cepat.
“Apa maksudmu, ngger?” sahut pengawal yang berkuda bersamanya dengan
kerut merut di dahi.
Bayu Swandana tertawa pendek. Jawabnya
kemudian sambil tangannya kanannya menunjuk ke belakang, ke arah pengawal yang
berkuda bersamanya, “Paman sendiri yang aku lihat kemarin menjadi kelelawar.”
“He?!” hampir bersamaan para pengawal
yang ikut dalam rombongan itu terlonjak kaget. Tak terkecuali Pandan Wangi yang
berkuda di depan pun ikut berpaling.
“Kapan aku menjadi kelelawar, ngger?”
bertanya pengawal yang berkuda bersamanya itu dengan serta merta dan nada penuh
keheranan.
Kembali Bayu Swandana tertawa pendek.
Jawabnya kemudian, “Kemarin lusa aku lihat paman tidur seharian di lincak dekat
longkangan. Baru menjelang Matahari terbenam paman bangun dan pergi ke pakiwan
belakang dapur.”
“Ah!” serentak para pengawal itu tertawa.
Pandan Wangi pun tersenyum menanggapi ucapan anak semata wayangnya itu.
“Itu karena paman semalaman habis meronda
ke seluruh wilayah kademangan Sangkal Putung,” berkata pengawal yang berkuda
bersamanya itu kemudian, “Paman sangat mengantuk dan memang hampir seharian
tidur di lincak dekat longkangan itu.”
“Nah, bukankah benar yang aku katakan,”
sergah Bayu Swandana cepat, “Saat itu paman sedang menjadi kelelawar. Bekerja
di malam hari dan tidur di siang hari.”
“Memang benar, ngger,” seorang pengawal
yang berkuda di belakangnya menyahut sambil memacu kudanya menjajari kuda Bayu
Swandana, “Kelak engkau akan melihat banyak manusia yang hidupnya seperti
kelelawar.”
“Ah, sudahlah,” tiba-tiba tedengar Pandan
Wangi yang berkuda di depan memotong. Tanyanya kemudian mengalihkan
pembicaraan, “Apakah kita akan melewati Kota Raja?”
“Ya, ya, biyung. Kita lewat Kota Raja!”
sahut Bayu Swandana kegirangan, “Aku belum pernah melihat Kota Raja. Alangkah
indahnya! Kita dapat bermalam di Kota Raja, biyung.”
“Sebaiknya kita menghindari Kota Raja,
nyi,” pengawal yang berkuda bersama Bayu Swandana itu lah yang menjawab, “Jika
nyi Pandan Wangi sependapat, kita sedikit ke selatan melewati kademangan Sewon
yang besar. Namun aku rasa perjalanan kita tidak akan mengalami banyak
hambatan. Berbeda dengan jika kita melewati Kota Raja.”
Pandan Wangi mengerutkan keningnya sambil
berpaling sekilas ke belakang. Tanyanya kemudian, “Ada apa dengan Kota Raja
jika kita melewatinya?”
“Maaf nyi,” jawab pengawal itu, “Bukan Kota
Raja itu sendiri yang menjadi masalah. Namun rombongan ini akan sangat menarik
perhatian para prajurit yang menjaga pintu gerbang Kota Raja.”
“Maksudmu, pakaian yang aku kenakan ini
akan menarik perhatian mereka?”
“Demikianlah, nyi. Itu menurut perhitunganku.”
“Ada apa dengan biyung?” tiba-tiba Bayu
Swandana menyeluthuk dengan nada bersungut-sungut, “Biyung terlihat sangat
cantik dan gagah mengenakan pakaian itu. Apalagi biyung juga membawa sepasang
pedang di lambung. Para prajurit yang
menjaga pintu gerbang pasti akan ketakutan.”
Hampir semua orang dalam rombongan itu
telah tersenyum mendengar ucapan Bayu Swandana.
“Tidak,ngger,” jawab Pandan Wangi
kemudian sambil mengurangi laju kudanya dan menjajari kuda yang ditunggangi
pengawal bersama anaknya, “Para prajurit Mataram tidak mengenal rasa takut.
Sebaiknya kita memang menghindari Kota Raja. Bukan berarti kita takut dengan
para prajurit Mataram. Mereka sangat baik. Namun lebih baik kita menghindari Kota
Raja. Kota Raja sangat ramai dan kemungkinannya perjalanan kita akan sangat
lambat. Berbeda jika kita melewati kademangan Sewon. Kita dapat berpacu di
bulak-bulak panjang sehingga setelah Matahari terbenam kita sudah akan
menyeberangi kali Praga.”
“Horee..!!! Kita akan berpacu lagi!” seru Bayu Swandana
gembira, “Aku sudah bosan naik kuda pelan-pelan. Seperti menaiki seekor
kerbau.”
“Ah”, beberapa pengawal tertawa. Salah
satu dari pengawal yang berkuda di belakang itu pun kemudian menyahut, “Tapi
naik kerbau sangat menyenangkan. Kita dapat duduk dengan tenang sambil
terkantuk-kantuk.”
Kembali terdengar orang-orang dalam
rombongan itu tertawa. Bayu Swandana pun tertawa karena dia sering melakukannya
jika musim menggarap sawah tiba. Kakeknya Ki Demang Sangkal Putung mempunyai
kerbau yang cukup banyak sehingga dia sering ikut ke sawah sambil menaiki
kerbau.
Langganan:
Postingan
(
Atom
)



